Tautan-tautan Akses

Pasca Gempa Aceh, Lebih Dari 45 Ribu Orang Mengungsi


Petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan relawan pendamping, menghibur para pengungsi anak-anak pengungsi di tenda pengungsi kabupaten Pidie Jaya. (Foto: Humas BNPB)

Petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan relawan pendamping, menghibur para pengungsi anak-anak pengungsi di tenda pengungsi kabupaten Pidie Jaya. (Foto: Humas BNPB)

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, para pengungsi masih membutuhan air bersih, tenda, tenaga medis serta relawan pendamping pengungsi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada penambahan korban meninggal dunia dan penambahan jumlah pengungsi korban gempa bumi 6,5 SR di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan pers di kantor BNPB jalan Pramuka Jakarta, Sabtu (10/12) menyebutkan, jumlah pengungsi hingga Jumat (9/12) mencapai 45 ribu lebih jiwa yang tersebar di beberapa titik. Sementara itu korban meninggal dunia mencapai 100 orang.

"Jadi, menginjak hari ke-4 masa tanggap darurat pada 10 Desember 2016, ada penambahan korbann jiwa menjadi 101 meninggal dunia. Jumlah pengungsi mengalami penambahan mencapai 45.329 jiwa," kata Purwo Nugroho.

Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, persediaan air bersih dan sandang pangan menjadi kebutuhan mendesak untuk para pengungsi.

"Karena di pos pengungsian masing kekurangan air bersih. Sehingga dalam hal ini upayanya mobilisasi dengan menggunaan tanki air. Dibangunnya hidran-hidran. Berusaha agar listrik bisa dihidupkan dan dari air tanah bisa di pompa. Berikutnya sandang dan pangan juga masih diperlukan. Khusus untuk bantuan susu bayi, hendaknya dengan peralatan yang bersih dan relawan yang khusus untuk mendampingi bayi. Kemudian makanan pengganti air susu ibu," lanjutnya.

Kebutuhan mendesak pengungsi lainnya lanjut Sutopo adalah tenda dan tenaga medis serta relawan pendamping pengungsi.

"Dokter orthopedi masih diperlukan. Lalu tempat penampungan sementara. Lalu tenda pengungsi, tenda pos, dan tenda keluarga. Lalu mandi cuci kakus (MCK). Relawan masih diperlukan. Relawan yang spesifik. Seperti untuk trauma healing, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia. Lalu di dapur umum. Berikutnya sarung selimut, mukena serta peralatan sekolah," imbuhnya.

Untuk pasokan listrik utama ke semua kecamatan di Pidie Jaya menurut Sutopo, sudah selesai 100 persen. Termasuk pasokan listrik di Kabupaten Bireun dan Pidie sudah dapat dipulihkan.

"Untuk di Pidie Jaya masih ada 8 trafo yang belum menyala. Karena total ada 1.228 trafo yang mengalami rusak. Dan 52 tiang listrik patah. Dengan gangguan listrik ini berpengaruh terhadap pemenuhan air bersih," kata Sutopo.

Meski masih ada beberapa gempa susulan dalam skala kecil, namun aktivitas ekonomi tambah Sutopo juga sudah mulai terlihat. Sejumlah toko kebutuhan pokok, warung makan dan perbankan juga sudah mulai buka.

Tim SAR Terus Lakukan Pencarian korban

Sebanyak 3.962 personil dari kementerian/lembaga dari BNPB, TNI, Polri, Kementerian Pekerjaan umum, Kementerian Kesehatan, Basarnas, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, BPBD, dan lainnya membantu penanganan korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya, Pidie dan Bireuen.

Untuk penanganan pencarian dan penyelamatan korban terus dilakukan selama masa tanggap darurat. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI FHB Soelistyo dalam keterangan terulisnya kepada VOA mengatakan, Klaster tim SAR masih terus mencari dan menyelamatkan korban, khususnya di 13 lokasi.

Sementara itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan hingga Jumat (9/12) sudah terjadi 69 kali gempa susulan sejak gempa 6,5 SR pada Rabu (7/12). Tren gempa susulan terus menunjukkan pelemahan. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan tidak terpancing isu menyesatkan.

Hingga hari ke-4 pasca bencana gempa bumi berkekuatan 6,5 SR, total korban 101 meninggal dunia, 92 jenazah sudah terindentifikasi. 857 orang luka, dengan perincian 139 luka berat dan 718 luka ringan. Sebanyak 45.329 orang mengungsi, dengan perincian 43.613 orang pengungsi di Pidie Jaya dan 1.716 orang pengungsi di Bireun.

Kerusakan bangunan dan infrastruktur yang rusak akibat musibah gempa, 157 ruko (rumah toko) rusak, dengan perincian 108 roboh, 31 rusak berat, 3 rusak sedang dan 15 rusak ringan. Sementara itu sebanyak 11.668 rumah penduduk rusak, dengan perincian 2.992 rusak berat, 94 rusk sedang dan 8.582 rusak ringan.

Untuk rumah ibadah, 64 masjid rusak, dengan perincian 31 rusak berat, 2 rusak sedang dan 31 rusak ringan. Lalu ada 88 mushola mengalami kerusakan, dengan perinciaan 28 rusak berat dan 60 rusak ringan. 5 unit kantor desa rusak, 14.800 meter jalan lingkungan rusak, dan 55 jembatan rusak. [aw/ab]

XS
SM
MD
LG