Tautan-tautan Akses

AS

Pasca Diajukannya Tuntutan, Baltimore Gelar “Pawai Kemenangan”


Massa berpawai menentang kebrutalan polisi dan mendukung warga Baltimore hari Sabtu 2 Mei 2015. (R. Muntu/VOA)

Massa berpawai menentang kebrutalan polisi dan mendukung warga Baltimore hari Sabtu 2 Mei 2015. (R. Muntu/VOA)

Ribuan demonstran kembali memadati jalan-jalan kota Baltimore menuju ke Balai Kota hari Sabtu (2/5) di bawah penjagaan ketat polisi.

Suasana demonstrasi lebih bersifat perayaan, dimana para demonstran meneriakkan kata “tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian,” menyusul pengumuman tuntutan pihak kejaksaan Baltimore terhadap polisi hari Jum’at (1/5) pasca kematian Freddie Gray.

Gray, warga Amerika keturunan Afrika berusia 25 tahun, tewas akibat cedera tulang belakang sewaktu berada dalam tahanan polisi tanggal 12 April lalu. Kematiannya memicu demonstrasi selama berhari-hari dan setelah pemakaman Gray hari Senin (27/4) aksi itu berubah menjadi kekerasan. Lebih dari 200 orang ditangkap dalam bentrokan hari Sabtu antara polisi dengan demonstran, sementara sedikitnya 20 polisi luka-luka.

Sabtu malam para petugas penegak hukum kembali menyerukan ketenangan tetapi mengatakan aturan jam malam mulai pukul 10 akan tetap diberlakukan. Beberapa demonstran tetap melanggar jam malam dan polisi terpaksa menangkap mereka.

Demonstrasi hari Sabtu (2/5) adalah yang terbesar yang pernah dilangsungkan sejak Jaksa Negara Bagian Marilyn Mosby menyampaikan tuduhan-tuduhan kejahatan, mulai dari penyerangan hingga pembunuhan. Pihak penyelenggara menggambarkan demonstrasi itu sebagai “demonstrasi kemenangan.”

Mosby mengatakan Gray “menderita cedera leher yang sangat parah dan kritis karena tangannya diborgol dan kakinya diikat tetapi sabuk pengaman tidak dipasangkan ke badannya” di dalam mobil van yang digunakan untuk membawanya.

Gubernur Maryland Larry Hogan mengatakan ia berharap kondisi tenang selama empat hari terakhir ini, pasca aksi kekerasan hari Senin, bisa terus berlanjut.

Dalam perkembangan lainnya, Komisi Kehakiman di DPR berencana menyelenggarakan dengar pendapat untuk meminta pertanggungjawaban para penegak hukum pada akhir bulan ini. Pernyataan dari Ketua Komisi Kehakiman DPR Bob Goodlatte mengatakan “beberapa laporan baru-baru ini tentang penggunaan kekuatan secara berlebihan oleh aparat penegak hukum dan serangan terhadap para petugas polisi telah meningkatkan kesadaran hati nurani tentang bagaimana interaksi para penegak hukum dengan warga.”

Ditambahkannya dengar pendapat nanti juga akan memusatkan perhatian pada agresi terhadap penegak hukum, keprihatinan atas keselamatan publik dan solusi untuk mengatasi masalah-masalah ini.

XS
SM
MD
LG