Tautan-tautan Akses

Pasar Seni ITB 2014 Puaskan Para Penikmat Seni

  • R.Teja Wulan

Patung-patung kecil Presiden Joko Widodo karya mahasiswa FSRD ITB di Pasar Seni ITB 2014. (VOA/R. Teja Wulan)

Patung-patung kecil Presiden Joko Widodo karya mahasiswa FSRD ITB di Pasar Seni ITB 2014. (VOA/R. Teja Wulan)

Pasar Seni ITB disebut-sebut sebagai ajang transaksi seni, desain dan kriya terbesar se-Asia Tenggara.

Acara pasar seni empat tahunan di Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali digelar Minggu (23/11), menyedot ribuan pengunjung tidak hanya dari Bandung, namun berbagai daerah di Indonesia.

Digagas oleh perupa A.D. Pirous yang juga sempat menjadi dekan fakultas seni rupa dan desain (FSRD) ITB, Pasar Seni ITB disebut-sebut sebagai ajang transaksi seni, desain dan kriya terbesar se-Asia Tenggara, menampilkan berbagai karya seni, pertunjukan dan aneka barang seni hingga kerajinan di sepanjang Jalan Ganesha dan kampus ITB.

Acara ini disiapkan selama berbulan-bulan oleh seluruh mahasiswa FSRD ITB dan menghabiskan biaya sekitar Rp 1 miliar.

Ketua penyelenggara Ignatius Gerry mengatakan, selain melibatkan seluruh mahasiswa FSRD ITB, Pasar Seni ITB juga dibantu mahasiswa jurusan lain dan kampus di luar ITB. Tema Pasar Seni tahun ini yaitu ‘Aku, Kita, dan Semesta’ terkait dengan situasi sosial sekarang yang terasa individualistis, ujarnya.

“Kali ini kita mengangkat sebuah tema besar ‘Individualitas’ yang mungkin sudah dirasakan karena pesatnya perkembangan teknologi. Seperti yang kita tahu, setiap orang sudah memegang smartphone-nya masing-masing. Melalui Pasar Seni ini, melalui sesuatu yang fun, melalui sesuatu yang menarik, melalui kesenian, kita membahasakan kondisi-kondisi sosial ini, mempersiapkan masyarakat menuju ke kondisi besar individualitas di masa yang akan datang," ujarnya.

Pengunjung Pasar Seni ITB melihat karya seni instalasi yang dibuat oleh mahasiswa FSRD ITB. (VOA/R. Teja Wulan)

Pengunjung Pasar Seni ITB melihat karya seni instalasi yang dibuat oleh mahasiswa FSRD ITB. (VOA/R. Teja Wulan)

Area Pasar Seni ITB mencapai dua per tiga luas kampus ITB di Jl. Ganesha, Bandung. Area tersebut dibagi menjadi tiga wilayah menurut tema. Panitia ingin meleburkan individualitas pengunjung dalam kebersamaan, sebagai sosok yang hidup bersama di alam semesta sehingga panitia menghadirkan empat seni pertunjukan dan sepasang panggung.

Di dalam area tersebut tersebar berbagai wahana unik yang terdiri dari karya seni instalasi, beberapa spot menarik untuk berfoto selfie atau berfoto bersama, dan 396 bilik produk karya seni, desain, dan kriya. Stand tersebut dibuat dari bambu dan kayu. Beberapa seniman ternama mengisi stand tersebut, di antaranya pematung Nyoman Nuarta dan pelukis Jeihan Sukmantoro dan Tisna Sanjaya.

Pasar Seni ITB 2014 menekankan konsep sehat bagi pengunjung dan lingkungan. Pasalnya, selain diajak untuk menikmati karya seni, pengunjung juga diajak untuk mencintai lingkungan melalui larangan membuang sampah sembarangan dan memilah sampah berdasarkan jenisnya
sebelum ditaruh di tempat sampah.

Panitia juga memberikan sanksi denda bagi penjual yang membiarkan sampah berserakan di lapak berjualan mereka.

“Pasar Seni sehat, keluaran dari pemikiran-pemikiran, rancangan-rancangan, posisi besar festival Seni Rupa di Kota Bandung. Kita bekerjasama dengan pihak Bandung Clean Action," ujar Ignatius Gerry.

Ribuan pengunjung yang datang ke Pasar Seni ITB tidak hanya berasal dari kota Bandung, tapi juga dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan berbagai daerah lainnya di Indonesia. Para pengunjung mengatakan senang bisa datang ke festival tersebut dengan gratis dan menikmati aneka pertunjukan seni dan membeli berbagai benda seni.

“Keren sih ya semuanya, dari suasananya, dekorasinya, bagus, benar-benar panitianya kelihatan niat," ujar seorang pengunjung bernama Satria.

“Pokoknya pertama masuk Jalan Ganesha tuh sudah terasa lah anak-anak seninya tuh kayak gimana. Pokoknya dari yang abstrak, paling abstrak, sampai yang teknik-teknik tuh sudah kelihatan gitu," ujar seorang lagi pengunjung bernama Feni.

XS
SM
MD
LG