Tautan-tautan Akses

Pasar Saham AS Berharap Ada Kenaikan


Layar menampilkan nilai penutupan perdagangan saham di New York Stock Exchange. (Foto: dok.)

Layar menampilkan nilai penutupan perdagangan saham di New York Stock Exchange. (Foto: dok.)

Pasar saham Amerika berharap akan terjadi kenaikan lagi, sehari setelah Fed atau Bank Sentral Amerika mengumumkan pihaknya tidak akan menaikkan suku bunga utama.

Ketika pasar saham ditutup Rabu (27/1), Indeks blue-chip Dow Jones, Standard & Poor 500, serta indeks teknologi Nasdaq, semuanya memperlihatkan penurunan antara 1 dan 2 persen.

Steven Ricchiuto, ekonom utama dari Mizuho Securities mengatakan, "Saya rasa, pasar berharap Fed akan melangkah mundur sedikit dari konsep bahwa mereka akan meneruskan kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini. Dan pada taraf tertentu, kalau kita amati apa yang mereka katakan, mereka tidak melangkah mundur dari niat mereka. Mereka tidak menjelaskan seberapa cepat mereka akan menaikkan suku bunga, tetapi mereka tetap bermaksud menaikkan suku bunga kedepan."

Ricchiuto menambahkan, “Dari perspektif pasar saham, di mana perusahaan dihadapkan pada tantangan harga saham yang sulit, kondisi ekonomi global yang sulit, kondisi ekonomi domestik yang sulit, serta dilengkapi dengan sebuah instansi Fed yang tidak mendorong kegairahan bisnis, maka reaksi pasar tidaklah bersemangat, dan itu sebabnya kita menyaksikan tanggapan mengecewakan dari pasar saham."

Bank Sentral Amerika mengatakan pasar-pasar saham di dunia semuanya bergejolak sejak Fed memutuskan menaikkan suku bunga pada Desember, kemudian diikuti oleh anjlok lebih jauh dari harga minyak mentah, serta kesulitan China dalam mengelola perlambatan ekonomi yang kedua terbesar di dunia.

Penyusun kebijakan Fed tidak mengubah suku bunga utama yang berada pada kisaran 0,25 sampai 0,5 persen, dan juga tidak memberi petunjuk apakah akan menaikkannya pada pertemuan Federal Reserve berikutnya di bulan Maret mendatang.

Sementara Fed mengakui bahwa ekonomi Amerika agak melamban, Fed juga mencatat bahwa pasar tenaga kerja “semakin membaik” dan inflasi berada dibawah target 2 persen. Belanja konsumen juga tetap kuat, dan data pemerintah yang dirilis Rabu memperlihatkan kenaikan penjualan rumah baru pada Desember, dan merupakan kinerja terbaik sejak 2007.

Bank Sentral mengantisipasi bahwa inflasi akan tetap rendah dalam jangka pendeknya, tetapi menekankan bahwa efek penurunan harga minyak dan komoditas sifatnya hanya sementara. [jm]

XS
SM
MD
LG