Tautan-tautan Akses

Para Senator Perempuan AS Desak Clinton Ambil Tindakan Atas Perkosaan di Birma


Para pengungsi perempuan etnis Kachin di Birma. Militer Birma dituduh menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang melawan pemberontak Kachin.

Para pengungsi perempuan etnis Kachin di Birma. Militer Birma dituduh menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang melawan pemberontak Kachin.

Sebanyak 13 Senator perempuan AS menandatangani surat mendesak Menlu Clinton agar menekan Birma agar menghentikan kasus perkosaan tersebut.

Sekelompok senator perempuan di Amerika telah menuduh militer Birma menggunakan tindakan pemerkosaan sebagai senjata perang, dan mendesak Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton menekan Pemerintah Birma untuk menghentikan praktek tersebut.

Dalam sebuah surat hari Rabu, kelompok bipartisan tersebut meminta Menteri Luar Negeri Hillary Clinton untuk mendukung pembentukan komisi penyelidik internasional atas kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan di Birma.

Surat tersebut mengutip sebuah laporan yang mengatakan, 18 perempuan etnis Kachin telah diperkosa beramai-ramai oleh pasukan pemerintah sewaktu pertempuran yang mengakhiri gencatan senjata selama 17 hari, dan mengatakan laporan-laporan serupa dari negara bagian Shan dimana sikap permusuhan kembali terjadi.

Senator Barbara Boxer dari Partai Demokrat dan Senator Kay Bailey Hutchison dari Partai Republik merupakan sebagian dari 13 penandatangan surat tersebut.

Para anggota Kongres juga mengutip pemimpin oposisi Birma Aung San Suu Kyi yang mengatakan pemerkosaan digunakan di negaranya sebagai senjata oleh pasukan bersenjata, untuk mengintimidasi kelompok-kelompok etnis dan memecah belah Birma. Pemenang Hadiah Nobel itu menyampaikan pernyataan lewat sebuah pesan rekaman video dalam Konferensi Nobel Perempuan bulan Mei lalu.

Kelompok-kelompok HAM telah berulangkali mengutuk pihak berwenang Birma atas pelanggaran HAM kelompok-kelompok minoritas. Amnesti Internasional mengatakan pasukan pemerintah selama berpuluh-puluh tahun telah menggunakan pemerkosaan, penyiksaan, pemindahan paksa dan pembunuhan untuk mengintimidasi etnis minoritas menyudahi kampanye mereka bagi otonomi.

Kelompok-kelompok yang lebih besar seperti orang Shan, Karen dan Kachin secara khusus menjadi sasaran.

XS
SM
MD
LG