Tautan-tautan Akses

Para Pengusaha Italia Minta Pertolongan Tiongkok


Investasi Tiongkok di Italia. (VOA)

Investasi Tiongkok di Italia. (VOA)

Jika Marco Polo dulu pergi ke dataran Tiongkok untuk mencari inovasi teknologi, kini yang terjadi adalah sebaliknya.

Krisis ekonomi di Eropa sangat terasa di bagian utara dan tempat yang lebih maju di Italia, di mana para pengusaha menderita akibat kurangnya kucuran kredit dan menurunnya jumlah pelanggan. Untuk mengatasi krisis tersebut, beberapa pengusaha mencari investasi dari Tiongkok, seperti pemilik CB Ferrari.

Ketika Renato Bianchi mendirikan perusahaannya pada akhir 1960an, ekonomi Italia sedang tumbuh pesat. Selama 40 tahun setelahnya, perusahaan berkembang dari hanya memiliki segelintir pekerja menjadi 160 pegawai.

Namun ketika krisis ekonomi global melanda pada pertengahan 2000an, pesanan mulai berkurang dan Bianchi mengatakan bahwa usahanya mulai kehilangan lebih dari US$1 juta per tahun.

“Saya pikir kita harus ubah haluan bisnis, karena kita tidak dapat bertahan,” ujarnya.

“Pilihannya adalah mencoba usaha lain, atau menjual perusahaan. Para pesaing kita di Swiss, Jerman dan Italia tertarik untuk membeli. Kami mulai berdiskusi dengan mereka dan jumlah uang yang mau mereka tanamkan lumayan.”

Namun Bianchi memilih untuk menjualnya pada sebuah perusahaan Tiongkok. Investasinya lebih kecil, ujarnya, namun ada satu jaminan penting.

“Hal yang terbaik dari perjanjian bisnis ini adalah bahwa mereka berjanji membiarkan perusahaan seperti apa adanya. Perusahaan Tiongkok tersebut setuju mempertahankan para manajer dan pegawai. Untuk saya hal itu sangat penting karena itu berarti saya tidak menghianati pegawai, orang-orang saya,” ujar Bianchi.

CB Ferrari memproduksi mesin-mesin presisi otomat yang membuat turbin untuk industri mobil, pesawat terbang dan energi.

Perusahaan milik negara dari Tiongkok yang membeli perusahaan Bianchi tersebut membuat mesin yang sama, namun kurang canggih. Perusahaan-perusahaan Tiongkok sekarang ini menginginkan peningkatan mutu di Eropa, ujar ekonom Roberta Rabellotti.
“Sama halnya seperti Marco Polo yang pergi ke Tiongkok dan membawa kembali inovasi teknologi, sekarang ini orang Tiongkok yang pergi ke Eropa, ke Italia, dan mencari aset-aset yang tidak kasat mata, seperti pengetahuan dan kemampuan manajerial,” ujarnya.

“Kami menyebutnya efek Marco Polo terbalik.”

Meski industrinya maju, Italia memiliki lingkungan usaha yang sangat birokratis, yang seringkali menghambat investasi asing. Negara tersebut ada di peringkat bawah dibandingkan negara-negara berkembang lainnya pada sebuah survei Bank Dunia yang mengevaluasi kemudahan melakukan bisnis secara global.

Itulah sebabnya mengapa Italia secara tradisional kurang menarik investasi dari Tiongkok dibandingkan negara-negara tetangganya di Eropa, ujar Rabelloti. Namun krisis ekonomi mengubah hal tersebut.

“Di Italia ada banyak perusahaan yang terkena krisis,” ujarnya. “Dibutuhkan modal dan Tiongkok memilikinya. Banyak pengusaha di sini yang mengalami kesulitan ekstrem, dan tidak melihat solusi alternatif lain selain menjual perusahaannya.”

Namun Rabellotti mengatakan bahwa kekhawatiran akan “investasi perampokan” tetap tinggi di Italia.

“Ada retorika negatif terhadap pengusaha Tiongkok karena ada banyak contoh di mana pembelian perusahaan berakhir dengan transfer teknologi dan penutupan operasi. Jadi ketakutan itu memang berdasar.”

Jalan terbaik untuk melawan ketakutan itu, Rabelloti berkata, adalah dengan menunjukkan contoh-contoh yang positif dimana investasi dari Tiongkok membantu pertumbuhan ekonomi lokal.

Bianchi percaya perusahaannya adalah salah satunya. (VOA/Rebecca Vali)
XS
SM
MD
LG