Tautan-tautan Akses

Para Pengungsi Suriah di Perbatasan Turki Kurang Kebutuhan Pokok


Warga Suriah antri untuk menyeberangi perbatasan di Oncupinar, di sebelah selatan kota Kilis, Turki (Foto: dok).

Warga Suriah antri untuk menyeberangi perbatasan di Oncupinar, di sebelah selatan kota Kilis, Turki (Foto: dok).

Ribuan orang setiap harinya datang ke pintu perbatasan utara untuk menghindari pemboman Rusia si Aleppo dan serangan pemerintah Suriah di kawasan-kawasan sekitarnya. Turki bersikeras mengatakan harus mendapat dukungan negara-negara lain sebelum menampung lebih banyak pengungsi.

Para pengungsi Suriah yang memadati perbatasan Turki kekurangan kebutuhan- kebutuhan pokok seperti air bersih, pangan, sanitasi, layanan medis dan tempat penampungan yang memadai. Namun ribuan orang setiap harinya datang ke pintu perbatasan utara untuk menghindari pemboman Rusia si Aleppo dan serangan pemerintah Suriah di kawasan-kawasan sekitarnya.

Turki bersikeras mengatakan harus mendapat dukungan negara-negara lain sebelum menampung lebih banyak pengungsi. Reporter VOA Zlatica Hoke melaporkan kebuntuan ini memperparah krisis kemanusiaan di Suriah tanpa kemungkinan adanya solusi segera.

Warga Suriah yang menghindari serangan udara Rusia tiba di kamp Bab al-Saameh dalam keadaan lapar dan lelah. Ada yang datang dengan sedikit bawaan, ada yang datang dengan tangan kosong. Tapi di sini mereka mendapat sedikit bantuan.

"Sepanjang 70 tahun saya hidup, saya belum pernah menyaksikan hal seperti ini.Serangan udara, bom barel, selalu berlangsung.Kami tidak punya apa-apa kecuali pakaian yang kami bawa. Kami perlu berganti pakaian.Kami tidak punya makanan dan minuman.Kami sakit, lelah, sama sekali tidak punya apa-apa yang menjadi kebutuhan pokok manusia," kata seorang perempuan pengungsi.

Hingga sekitar 50 ribu pengungsi memadati kamp yang tersusun dari tenda-tenda ala kadarnya, di mana mereka mendapatkan jatah makanan dan sedikit jatah lainnya.

"Setelah serangan udara dimulai di Allepo. Kami mengungsi dari satu tempat ke tempat lainnya hingga tiba di sini.Karena takut dengan pemboman, kami datang.Saya punya dua putri dan seorang putra, dan saya harus menyokong kehidupan mereka. Salah satu putri saya tidak bisa melihat sama sekali," kata seorang pengungsi, Moussa Ibrahim Eissa.

Krisis di perbatasan begitu parahnya sehingga sebagian pengungsi kembali ke kampung halaman mereka meski menghadapi bahaya. Namun mereka kebanyakan berharap Turki akan membuka perbatasanya dan membiarkan mereka masuk.Turki telah menampung sekitar dua juta pengungsi Suriah, dan Ankara ingin berbagi biaya dalam menampung mereka. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Kamis, marah menanggapi seruan internasional untuk membuka perbatasannya bagi arus pengungsi terbaru itu.

"PBB seharusnya tidak menyampaikan seruan pada kami, melainkan bersama lembaga-lembaganya, melangsungkan usaha yang lebih besar untuk menghentikan situasi buruk kemanusiaan dan pembersihan etnis di Suriah. Sejak awal krisis, kami telah mengatakan kepada masyarakat internasional mengenai bagaimana menangani masalah pengungsi secara efisien. Masalah ini tidak bisa diatasi tanpa adanya zona larangan terbang yang aman di atas wilayah Suriah," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Situasi buruk ini membayangi festival film Berlin, yang dibuka hari Kamis dengan pemutaran film "Hail, Caesar!". "Saya akan bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel besok untuk membicarakan dan menanyakan pesan dan apa yang bisa kami lakukan.Hal-hal yang bisa kami bantu," kata salah satu bintangnya, George Clooney.

Para menteri luar negeri dari AS, Uni Eropa, Rusia, yang bertemu di Jerman, Kamis, merundingkan kesepakatan gencatan senjata yang menurut mereka akan menjamin akses kemanusiaan yang lebih baik bagi komunitas-komunitas yang terkepung. [ab/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG