Tautan-tautan Akses

Para Pemimpin Kolombia Berupaya Hidupkan Kesepakatan Damai


Mahasiswa dan pendukung penandatanganan kesepakatan damai antara pemerintah dan pemberontak FARC dalam aksi demo di depan Kongres di Bogota, Kolombia, 3 Oktober 2016. (REUTERS/John Vizcaino)

Mahasiswa dan pendukung penandatanganan kesepakatan damai antara pemerintah dan pemberontak FARC dalam aksi demo di depan Kongres di Bogota, Kolombia, 3 Oktober 2016. (REUTERS/John Vizcaino)

Selain memulai kembali perundingan dengan pemberontak, Presiden Kolombia Juan Manuel Santos akan bertemu dengan mantan presiden Alvaro Uribe, yang memimpin kelompok oposisi yang menentang kesepakatan damai dengan FARC.

Sejumlah pejabat Kolombia, Selasa, bertemu di Kuba dengan beberapa perwakilan Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) untuk melangsungkan pembicaraan yang ditujukan untuk mengusahakan dan mempertahankan kesepakatan perdamaian. Namun, tidak jelas sejauh mana kesediaan kelompok pemberontak tersebut untuk kembali ke meja perundingan.

Selain memulai kembali perundingan dengan pemberontak, Presiden Kolombia Juan Manuel Santos akan bertemu dengan mantan presiden Alvaro Uribe, yang memimpin kelompok oposisi yang menentang kesepakatan damai dengan FARC.

Uribe mengatakan kepada sebuah stasiun radio Kolombia, ia bersedia memberikan masukan mengenai bagaimana mengusahakan perdamaian dengan FARC dan mengakhiri perang yang telah berlangsung 52 tahun di negara itu.

Para pemilih menolak referendum perjanjian damai yang disepakati pemerintah dan FARC dengan perbandingan suara 50,2 persen lawan 49,7 persen, atau hanya selisih 54 ribu suara. Penolakan referendum ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh rakyat Kolombia menolak berdamai dengan pemberontak.

Bahkan, para pemilik suara memilih agar pemerintah melanjutkan perang melawan gerilyawan Marxis itu. Jajak-jajak pendapat menjelang pemungutan suara hari Minggu itu sebelumnya memprediksikan, referendum itu akan disetujui dengan marjin perbandingan dua lawan satu.

Presiden Santos mengatakan ia akan memperpanjang kesepakatan perdamaian dengan FARC hingga 31 Oktober, dalam usaha untuk memfasilitasi perundingan.

Namun pemimpin FARC, Rodrigo Londono, yang juga dikenal sebagai Timochenko, menanggapi usulan perpanjangan gencatan senjata itu dengan keraguan. Melalui Twitter Timochenko mengatakan, apakah setelah gencatan senjata selesai perang akan dilanjutkan. [ab/as]

XS
SM
MD
LG