Tautan-tautan Akses

Pertemuan di Paris Upayakan Libya yang Demokratis dan Inklusif


Presiden Perancis Nicolas Sarkozy (tengah) menjadi tuan rumah bagi konferensi Libya di istana Elysee, Paris (1/9).

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy (tengah) menjadi tuan rumah bagi konferensi Libya di istana Elysee, Paris (1/9).

Konferensi di Paris itu mendatangkan para pejabat dari 60 negara, bertujuan membicarakan masa depan Libya pasca Gaddafi.

Para diplomat dan tokoh-tokoh politik dunia hari Kamis bertemu di Perancis untuk membahas masa depan Libya setelah tersingkirnya Moammar Gaddafi.

Para pejabat dari 60 negara ambil bagian dalam konferensi di Paris. Sebelum pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan kepada wartawan bahwa Dewan Transisi Nasional Libya telah memulai proses membentuk suatu negara yang demokratis dan inklusif.

Para pejabat memperkirakan pemimpin NTC Mustafa Abdel Jalil akan mengungkapkan peta jalan 18 bulan untuk menyusun konstitusi baru dan mengadakan pemilu. Rusia menjadi negara terbaru yang mengakui NTC sebagai penguasa sah Libya. Aljazair secara terpisah menyatakan akan mengakui NTC jika penguasa sementara itu memenuhi janji akan membentuk pemerintahan inklusif.

Tiongkok dan Rusia juga mengirim utusan, meskipun pernah mengecam serangan udara NATO di Libya selama beberapa bulan ini. NATO menyatakan serangan udara itu sah berdasarkan mandat PBB untuk melindungi warga sipil dari rezim Gaddafi di Tripoli.

Perancis mengatakan hari Kamis pihaknya telah diizinkan untuk mencairkan lebih dari 2 milyar dolar asset Libya yang dibekukan setelah memohonnya kepada komite sanksi Dewan Keamanan PBB. Komite itu telah menyetujui permohonan serupa dari Inggris dan Amerika Serikat, yang mencairkan lebih dari 3 milyar dolar asset Libya yang disita untuk membantu memenuhi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak.

XS
SM
MD
LG