Tautan-tautan Akses

Para Pemimpin Dunia Curahkan Perhatian ke Suriah dan Irak dalam Perangi Terorisme


Warga memeriksa lokasi yang rusak parah akibat serangan udara Rusia di kota Nawa, Deera, Suriah (21/11).

Warga memeriksa lokasi yang rusak parah akibat serangan udara Rusia di kota Nawa, Deera, Suriah (21/11).

Perancis mengatakan Senin (23/11) telah melancarkan serangan udara terhadap ISIS di kota Ramadi dan Mosul, Irak, untuk pertama kalinya.

Serangan 13 November di Paris telah menarik perhatian lebih besar ke Suriah, yang katanya merupakan tempat pelatihan para tersangka pelaku serangan itu. Presiden Perancis Francois Hollande sedang berusaha membangun koalisi internasional yang luas untuk mengalahkan Negara Islam di Suriah dan Irak atau ISIS.

Perancis mengatakan Senin (23/11) telah melancarkan serangan udara terhadap ISIS di kota Ramadi dan Mosul, Irak, untuk pertama kalinya. Para pejabat mengatakan empat jet tempur dikirim dari kapal induk Charles de Gaulle yang sekarang berada di Laut Tengah, dengan dua pesawat terbang di atas masing-masing kota itu. Sejak serangan Paris yang menewaskan 130 orang, Perancis telah membom ISIS di Suriah.

"Tujuan kami adalah untuk melemahkan ISIS dan menghancurkannya secara permanen. Untuk melemahkan musuh kita harus memukul pusat komando, pusat logistik, pusat penyimpanan dan pusat-pusat pelatihan," kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Perancis Pierre De Villiers.

Tapi ada perasaan yang berkembang bahwa serangan udara saja tidak cukup untuk mencegah para teroris.

"Kesulitan terbesar dalam memerangi kelompok teroris adalah kurangnya pasukan darat yang kuat. Rusia telah mengakui bahwa serangan udaranya baru-baru ini tidak cukup kuat dan tidak mencapai target," kata Tarek Alabed, analis politik Suriah.

Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan para pemimpin Iran hari Senin (23/11) untuk membahas dukungan bagi pasukan pemerintah Suriah. Moskow dan Teheran adalah sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad, sementara para pemimpin AS dan Eropa ingin dia mundur.

Assad tidak menunjukkan niat melepaskan posisinya. Dalam wawancara baru-baru ia berbicara tentang rencananya untuk masa depan Suriah.

"Yang paling penting bagi kami dan bagi saya adalah bahwa konstitusi, dan seluruh sistem, dan negara pada umumnya harus sekuler. Sekuler tidak berarti melawan agama. Sekuler berarti kebebasan beragama dalam sistem yang dapat merangkul setiap agama, setiap pengikut sekte, dan setiap etnis," jelas Presiden Suriah, Bashar Al-Assad.

Sebagian warga Suriah berharap serangan di Paris itu akan meningkatkan upaya internasional melawan ISIS.

"Negara-negara Eropa mulai melihat bahwa terorisme ada di sekitar mereka meskipun kelompok-kelompok ekstremis tidak berada di dalam negara mereka," kata Tarek Alabed.

Kita lihat saja apakah presiden Perancis bisa menyatukan pihak-pihak yang berbeda pendapat untuk bersama-sama memerangi terorisme. [as/ab]

XS
SM
MD
LG