Tautan-tautan Akses

Semakin Banyak Bapak Amerika Memasak bagi Keluarga

  • Faiza Elmasry

Di Amerika, memasak untuk keluarga kini bukan lagi hanya menjadi urusan ibu rumah tangga (foto: ilustrasi).

Di Amerika, memasak untuk keluarga kini bukan lagi hanya menjadi urusan ibu rumah tangga (foto: ilustrasi).

Di Amerika dengan banyaknya para ibu bekerja di luar rumah, makin banyak para bapak yang memasak untuk keluarga.

Redaktur majalah New Yorker dan kartunis John Donohue ingin merasakan peran laki-laki sebagai juru masak bukan hanya sebagai pencari nafkah. Jadi ia meminta lebih dari dua puluh laki-laki yang menjadi bapak, penulis, dan juru masak mengambil alih dapur untuk menyumbang pada bukunya yang berjudul "Man With a Pan: Culinary Adventures of Fathers Who Cook for Their Families".

Ketika pertama kali John Donohue menjadi seorang bapak, ia punya pekerjaan baru. Ia mengatakan, “Saya mulai sering memasak untuk isteri dan bayi saya. Sangat menyenangkan.”

Ia terkejut ketika mengetahui bahwa ia tidak sendiri.

Untuk bukunya "Man With a Pan," Donohue menggabungkan 34 esai dari penulis dan kepala juru masak, termasuk Mark Bittman, penulis makanan untuk koran New York Times. Donohue menjelaskan siapa Bittman sebelumnya.

“Ia menikah punya bayi. Ia menjadi supir taksi. Ia mengerjakan berbagai pekerjaan tidak lazim. Jadi kemudian ia mulai masak. Ini yang membawanya pada buku pertama, yang mengarahkannya menjadi seorang penulis,” papar Donohue.

Bapak-bapak lainnya, kata Donohue, memasak dengan terpaksa, seperti pengarang novel Steven King yang juga menyumbang esai berjudul On Cooking. Namun, bagi pengarang novel Mohammed Naseehu Ali asal Ghana lebih mudah. Ia terilhami oleh kenangan masa kecilnya di dapur ibunya.

“Saya besar di lingkungan Muslim Hausa. Dalam masyarakat kami, laki-laki tabu berada di dapur. Namun ibu saya mengijinkan saya di dapur selagi ia memasak,“ ujar Ali.

Ali percaya memasak adalah proses kreatif

Ia mengatakan, “Saya membandingkan memasak dengan menulis. Pada dasarnya sama. Ketika menulis kita punya kertas kosong untuk memulai. Jika memasak kita punya kuali kosong untuk memulai kreativitas, apa yang dimasukkan dan bagaimana memasaknya menjadi makanan.”

Penulis perjalanan, Jack Hitt, juga menyumbang sebuah esai yang menggambarkan proses kreatif itu.

Hitt mengatakan kemampuan memasaknya berkembang selama 16 tahun terakhir. Dalam proses itu ia menemukan cara lebih baik meluangkan waktu bersama keluarganya.

Ia mengatakan, “Tahu-tahu saya melihat anak saya yang masih kecil di dapur menyaksikan saya memasak dari kursinya, lalu tiba-tiba ingin ikut. Jadi saya punya asisten, dan beberapa tahun kemudian ada asisten lainnya. Kami semacam bereksperimen di dapur, bertiga dan juga ketika isteri saya ada di rumah, lama kelamaan kami berempat di dapur memasak sembari membesarkan anak-anak.”

Nasehatnya untuk laki-laki yang ingin memasak adalah, “Buatlah yang sederhana. Jika kita membeli bahan yang baik dan memasaknya secara sederhana, kita akan mendapat makanan yang sangat baik.”

John Donohue, redaktur buku itu mengatakan ia berharap lebih banyak para bapak yang akan memasak selagi kebutuhan akan itu makin meningkat dan masyarakat makin menerima laki-laki memasak.

XS
SM
MD
LG