Tautan-tautan Akses

Papua dan 14 Tahun Pembunuhan Theys Eluay

  • Nurhadi Sucahyo

Pasar Tradisional di Wamena, Papua (Foto: dok).

Pasar Tradisional di Wamena, Papua (Foto: dok).

Tanggal 10 November selalu diingat masyarakat Papua sebagai tanggal kepergian salah satu pemimpin mereka, Theys Hiyo Eluay. Tetapi, aktivitas untuk mengenang Theys hampir selalu tidak bisa dilakukan dengan mudah.

Sekitar sepuluh aktivis anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) datang ke makam Theys Hiyo Eluay, pada Selasa 10 November siang. Mereka bermaksud mengecat makam tokoh Papua itu, sekaligus melakukan ibadah singkat memperingati 14 tahun kematiannya. Namun, belum sempat kegiatan itu berlangsung, aparat kepolisian telah melarang aktivitas tersebut.

Kegiatan di makam Theys Eluay pada hari Selasa hanyalah satu dari berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mengenang pemimpin rakyat Papua itu. Sejak peristiwa pembunuhan yang dilakukan anggota Kopassus TNI terhadap Theys Eluay, rakyat Papua selalu mengingat pemimpinnya dengan berbagai cara. Sayang, seperti disampaikan Latifah Anum Siregar dari Aliansi Demokrasi untuk Papua, pemerintah melalui aparat keamanan selalu melarang aktivitas terkait Theys Eluay maupun pemimpin rakyat Papua yang lain.

“Beberapa waktu belakangan ini, memang aparat keamanan, pemerintah sangat membatasi ruang-ruang kebebasan berekspresi. Apalagi kemudian jika hal itu terkait dengan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, yang kemudian tidak mampu diungkapkan secara maksimal, maka pemerintah caranya adalah dengan menghalang-halangi, membatasi, hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat untuk meminta lebih jelas kasusnya, membuat lebih terang kasusnya, itu yang kami lihat yang terjadi di Papua,” kata Latifah Anum Siregar.

Latifah Anum Siregar adalah pengacara yang membela Theys Eluay dalam kasus makar tahun 2000. Latifah berhasil membebaskan Theys dan beberapa tokoh Papua lain dari tuduhan makar, hingga kemudian dibebaskan oleh pengadilan. Menurut Latifah, Theys Eluay adalah salah satu tokoh yang pengaruhnya sangat besar bagi rakyat Papua. Namun karena pengaruh besar itu pulalah, Theys kemudian dibunuh.

Theys Eluay (Foto: dok).

Theys Eluay (Foto: dok).

​“Menurut saya, Pak Theys, dan seperti juga tokoh-tokoh lain yang ada di Papua, saya pikir mereka selalu punya kesan yang kuat, meninggalkan sejarah yang kuat dan juga memiliki pesan yang kuat buat masyarakat Papua, untuk bagaimana mereka berjuang, bagaimana mereka protes terhadap ketidakadilan, dan itu yang ditakutkan karena ada semakin banyak orang terlibat. Dan juga Pak Theys memang tokoh yang cukup kuat yang memberikan semangat itu buat rakyat Papua," kata Latifah Anum Siregar.

Aktivis Hak Asasi Manusia Papua, Yan Chrstian Warinussy menilai, pembunuhan terhaday Theys 14 tahun lalu adalah bentuk ketakutan negara terhadap aktivitas rakyat Papua dalam menuntut haknya. Lebih disayangkan lagi, setelah sekian lama, aparat keamanan masih bertindak berlebihan, misalnya melarang aktivitas terkait peringatan kematian Theys. Apalagi, bagi rakyat Papua, Theys tidak tergantikan sampai saat ini.

“Kematian beliau itu sungguh merupakan satu kehilangan yang luar biasa. Sepeninggal Theys hingga saat ini kita belum memperoleh satu figur pemimpin yang bisa menjadi tokoh yang bisa dikatakan mempersatukan seluruh elemen yang ada. Theys muncul itu memang sebagai pemimpin yang benar-benar diharapkan, dia muncul ditengah kesunyian, dimana orang Papua tidak memiliki pemimpin,” kata Yan Christian Warinussy.

Pada tahun 1992, Theys Eluay mendirikan dan kemudian memimpin Lembaga Musyarawah Adat. Ini adalah lembaga yang menaungi 250 suku di Papua. Pada tahun 1999, Theys Eluay mencetuskan dekrit Papua Merdeka dan mengibarkan bendera Bintang Kejora.

Setahun kemudian, dia menyelenggarakan Konggres Nasional II Rakyat Papua Barat dan kemudian berujung pada tuduhan makar. Dia terbebas dari tuduhan makar, tetapi tidak dapat menghindar dari pembunuhan oleh anggota Kopassus, pada 10 November 2001. [ns/eis]

XS
SM
MD
LG