Tautan-tautan Akses

Pameran di Los Angeles Tampilkan Kisah Para Perempuan Korban Kekerasan Seksual

  • Mike O'Sullivan

Foto gadis-gadis remaja yang dibujuk masuk dunia prostitusi, turut dipamerkan di Pusat Kebudayaan Skirball di Los Angeles (foto: dok).

Foto gadis-gadis remaja yang dibujuk masuk dunia prostitusi, turut dipamerkan di Pusat Kebudayaan Skirball di Los Angeles (foto: dok).

Pameran di pusat kebudayaan Los Angeles menampilkan sebagian cerita para perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual.

Pameran di Pusat Kebudayaan Skirball itu menampilkan kisah-kisah perempuan yang telah mengambil tindakan untuk mengubah hidup mereka.

Misalnya, Saima Muhammad, seorang perempuan Pakistan yang membangun bisnis bordir dengan pinjaman 65 dolar berhasil meraih kemandirian finansial dari suaminya yang sewenang-wenang. Goretti Nyebenda, seorang perempuan di Burundi, yang memulai bisnis minuman pisang untuk menghidupi keluarganya.

Pameran ini juga menunjukkan beberapa perempuan yang telah menciptakan perubahan pada skala yang lebih luas, termasuk Edna Adan Ismail, mantan ibu negara Somalia. Ia adalah mantan perawat yang telah berkampanye menentang pemotongan kelamin perempuan dan menggunakan tabungan hidupnya untuk membangun rumah sakit bersalin di Somaliland.

Kisah-kisah mereka diceritakan melalui foto, karya seni, audio dan video.

Pameran tersebut menampilkan perempuan dan anak perempuan di Afrika, India dan Amerika Latin. Jurnalis Nicholas Kristof mengenal orang-orang ini dan pernah menulis tentang mereka. Ia mengatakan sangat terharu melihat mereka sebagai bagian dari pameran besar ini.

"Ada perasaan yang sangat aneh dan indah ketika berjalan melalui pameran dan melihat orang-orang ini, yang telah saya kenal selama bertahun-tahun, dan saya temui ketika mereka dalam situasi yang memprihatinkan," ujarnya.

Sebuah foto menunjukkan dua gadis remaja Kamboja yang dibujuk ke dalam dunia prostitusi. Ada juga cerita tragis tentang perempuan yang meninggal saat melahirkan, problem serius di banyak negara berkembang.

Sebagian narasinya ditampilkan dalam bentuk suara. Ada suara seorang perempuan yang menjelaskan bagaimana dia dipaksa bekerja di rumah jompo.

"Selama dua setengah tahun, saya merasa seperti hidup di neraka, tinggal di penjara. Saya tidak boleh berbicara, tidak boleh pergi, jadi saya sangat sengsara. Saya seperti mati rasa," papar perempuan itu.

Kurator Karina White mengatakan ini bukan satu-satunya kasus yang terjadi, banyak perempuan menghadapi masalah serius di berbagai belahan dunia.

"Perempuan sekarat ketika melahirkan, kekerasan pada anak perempuan, terutama di negara-negara termiskin, dan perdagangan manusia," kata White.

Pengunjung Jay Segal adalah seorang pensiunan hakim imigrasi yang telah mendengar banyak cerita yang sama dalam sidang orang-orang yang meminta suaka politik. Ia tidak terkejut dengan apa pun yang ditampilkan dalam pameran itu.

Ia mengatakan, "Tidak sama sekali. Tapi saya senang datang kemari, dan mengetahui apa yang terjadi. Saya pikir kita harus melakukan lebih banyak daripada yang telah kita lakukan. Saya harap banyak hal yang lebih baik terjadi."

Nicholas Kristof mengatakan ini juga merupakan cerita tentang harapan dan bahwa perubahan tengah terjadi, bahkan di Los Angeles. Setiap pengunjung pameran "Perempuan Menopang Separuh Langit" menyumbangkan satu dolar untuk dana investasi dalam bisnis perempuan di suatu tempat di dunia. Mereka dapat melakukan hal itu lewat komputer di pusat budaya itu yang terhubung ke sebuah situs pinjaman kecil berbasis internet.

XS
SM
MD
LG