Tautan-tautan Akses

Pakta Pertahanan AS-Jepang Picu Kekhawatiran Korea Selatan dan China

  • Brian Padden

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei mengatakan Beijing menyatakan keberatan yang kuat atas pakta pertahanan AS-Jepang (foto: dok).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei mengatakan Beijing menyatakan keberatan yang kuat atas pakta pertahanan AS-Jepang (foto: dok).

Pakta pertahanan baru antara Amerika dan Jepang yang memberi peran global lebih ambisius bagi pasukan Jepang, hari Selasa (28/4) memicu reaksi waspada dari negara tetangga Korea Selatan dan China.

Meskipun Korea Selatan bisa mengambil manfaat dari kehadiran militer Jepang yang lebih kuat untuk melawan ancaman Korea Utara dan kekuasaan China yang meningkat, pejabat-pejabat negara itu tetap berkeberatan mengingat ketegangan selama masa perang Jepang di masa lalu.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan Kim Min-seok tidak memberi komentar yang jelas ketika ditanya tentang pedoman pertahanan Amerika-Jepang yang diperbarui.

Ia mengatakan mereka berencana membahas kasus-kasus itu berdasar situasi. Ketika atau jika terjadi perang, kata Kim, pedoman akan dikukuhkan presiden. Pedoman memungkinkan Jepang menerapkan "pertahanan diri bersama" guna membantu negara-negara lain di kawasan itu yang diserang. Dan mereka mendukung resolusi kabinet Jepang tahun lalu yang memperluas peran militer dengan menafsirkan kembali undang-undang dasar anti-perang negara itu pasca-Perang Dunia II.

Ancaman nuklir Korea Utara yang meningkat dijadikan dasar untuk membenarkan dibutuhkannya militer Jepang yang lebih kuat. Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, hari Selasa merilis tajuk rencana yang mengutuk perjanjian itu.

Sementara di China, pihak berwenang mengatakan akan menunggu perkembangan dan arah yang diambil aliansi itu. Jurubicara Kementerian Luar Negeri Hong Lei mencatat Aliansi Amerika-Jepang dijalin semasa Perang Dingin, dan ia mengatakan, "Perang Dingin sudah lama berakhir."

Dalam jumpa pers reguler hari Selasa, Hong Lei mengatakan, yang menjadi kunci adalah apakah aliansi ini memanfaatkan perdamaian dan stabilitas di kawasan dan tidak merugikan kepentingan pihak ketiga mana saja, termasuk China.

Sebelum perjanjian baru itu diselesaikan, Hong Lei mengatakan, pejabat-pejabat Amerika memberi tahu China mengenai hal itu. Ia mengatakan China menyuarakan keberatan yang kuat atas perjanjian itu karena mencakup Kepulauan Senkaku, sekelompok pulau yang dikuasai Jepang di Laut China Timur, yang diklaim China sebagai miliknya. Perjanjian tersebut menegaskan bahwa kepulauan itu, yang disebut orang China sebagai Diaoyu, dibawah kekuasaan Jepang.

Koran Partai Komunis China Beijing’s People’s Daily dalam tajuk rencananya menyatakan pedoman itu tidak akan "menutupi kerjasama pragmatis" tetapi juga bahwa "Amerika tidak bisa mengubah tren kenaikan China sekalipun jika Amerikamenggunakan Jepang sebagai 'bidak catur.'"

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berkunjung ke Washington pekan ini di mana ia akan menggarisbawahi aliansi kuat yang berkembang di antara kedua negara, sejak mereka berhadapan sebagai musuh dalam Perang Dunia II, 70 tahun lalu.

XS
SM
MD
LG