Tautan-tautan Akses

Pakar: Secara Umum Pemerintah Belum Mampu Laksanakan Standar Perawatan Jembatan

  • Nurhadi Sucahyo

Minimnya perawatan secara berkala, dinilai menjadi salah satu sebab ambruknya jembatan Kutai Kertanegara di Tenggarong, Kalimantan Timur (foto: dok).

Minimnya perawatan secara berkala, dinilai menjadi salah satu sebab ambruknya jembatan Kutai Kertanegara di Tenggarong, Kalimantan Timur (foto: dok).

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui penyebab runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara. Salah satu penelitian itu dilakukan oleh tim dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada mengirim satu tim khusus untuk menyelidiki penyebab runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara. Setelah melakukan penelitian selama beberapa hari, tim menemukan fakta bahwa awal keruntuhan dipicu oleh patahnya baut sambungan kabel penggantung jembatan.

Ketua tim penelitian dari UGM, Prof Ir Bambang Suhendro M Sc. Ph.D mengatakan, patahnya baut sambungan bisa disebabkan oleh faktor kelelahan bahan. Suatu kondisi di mana bahan menerima tekanan di luar kemampuan atau bisa juga mengalami kerusakan sedikit demi sedikit.

Pemicunya bisa berupa beban yang melebihi kapasitas, atau mungkin kondisi lingkungan seperti kecepatan angin dan tingginya tingkat asam dalam air hujan.

Prof. Dr. Bambang Suhendro, ketua tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Prof. Dr. Bambang Suhendro, ketua tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Bambang Suhendro menjelaskan, “Ini antara lain itu adalah akibat beban dinamis dari traffic maupun angin yang selalu bertiup setiap hari itu memicu beban yang namanya beban berulang, yang akhirnya ada aspek material yang disebut kelelahan bahan atau fatik. Ya memang yang kita soroti sekarang kelelahan bahan yang terjadi di sistem sambungan itu.”

Kecelakaan ini menurut Bambang Suhendro sebenarnya bisa dicegah. Untuk setiap jembatan semestinya dilakukan perawatan berkala, sehingga satu kerusakan kecil dapat diketahui secepat mungkin, agar tindakan perbaikan dapat segera dilakukan. Bambang Suhendro menyayangkan, bahwa secara umum pemerintah belum mampu melaksanakan standar perawatan.

“Ini kelemahan kita di negara ini. Kita sudah jago-jago untuk mendesain, construction juga sudah pengalaman banyak, tetapi dalam merawat dan mengevaluasi, me-repair secara kontinyu dan cermat ini tidak telaten,” papar Bambang Suhendro.

Sementara itu, staf ahli Menteri Pekerjaan Umum, Prof Dr Ir Danang Parikesit M Sc mengatakan, tiga universitas telah ditunjuk menjadi tim investigasi runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara. Ketiganya adalah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi Surabaya.

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum, Prof. Dr. Danang Parikesit.

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum, Prof. Dr. Danang Parikesit.

Menurut Danang Parikesit, baut penggantung sebenarnya telah dirancang untuk kuat menahan beban hingga 200 ton. Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang terjadi pada saat itu, sehingga bagian vital itu menerima beban melebihi kapasitasnya.

“Sesuai dengan rencananya itu kapasitasnya 200 ton, sehingga ada beban yang melebihi 200 ton bekerja pada satu saat di dalam proses penggunaan jembatan tersebut. Nah, ini sekarang sedang diteliti, dari mana munculnya beban sebesar lebih dari 200 ton itu yang mengakibatkan kegagalan fungsi dari sambungan tersebut. Itu yang sekarang masih dalam proses, karena kita tidak boleh gegabah.”

Danang Parikesit menambahkan, menurut rencana pemerintah akan membangun jembatan baru, yang lokasinya cukup jauh dari posisi jembatan lama. Tim peneliti dari UGM sendiri merekomendasikan, sebaiknya jembatan baru tidak lagi bertipe suspension bridge, seperti yang sekarang dipakai.

Sementara itu, hingga hari Sabtu sore, jumlah korban yang berhasil ditemukan sebanyak 21 orang meninggal, dan 17 yang lain dinyatakan hilang.

XS
SM
MD
LG