Tautan-tautan Akses

Pakar BPPT: Perlu Sistem EWS Cepat untuk Atasi Ancaman Bencana di Indonesia

  • Yudha Satriawan

Warga mengamati banjir yang melanda wilayah mereka di Kampung Sewu, Solo, Jawa Tengah (19/6).

Warga mengamati banjir yang melanda wilayah mereka di Kampung Sewu, Solo, Jawa Tengah (19/6).

Pakar Ikatan Ahli Bencana Indonesia ( IABI) mengatakan perlu adanya sistem koordinasi terpadu antara BMKG, BPPT, BNPB, dan LIPI dalam pemetaan potensi bencana dan pola iklim cuaca untuk mencegah terjadinya korban jiwa.

Ikatan Ahli Bencana Indonesia sekaligus pakar BPPT memprediksi Indonesia akan diguyur hujan dengan intensitas tinggi hingga awal tahun depan. Pemetaan potensi bencana dan iklim cuaca di berbagai daerah akan segera disusun untuk mengurangi potensi terjadinya bencana alam yang menelan korban jiwa. Berbagai daerah di mana terjadi bencana alam pun mulai memasuki kondisi tanggap darurat.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BPPT, Tri Handoko Seto, kepada VOA di Solo, Kamis (23/6), mengatakan perubahan iklim dan cuaca ekstrim yang terjadi saat ini disebabkan anomali pertumbuhan awan dunia dan anomali suhu muka laut yang disebut fenomena La Nina.

Tri Handoko yang juga menjabat di Pokja Cuaca Ekstrim Ikatan Ahli Bencana Indonesia atau IABI mengatakan perlunya sistem koordinasi terpadu antara BMKG, BPPT, BNPB, dan LIPI dalam pemetaan potensi bencana dan pola iklim cuaca untuk mencegah terjadinya korban jiwa.

Tri Handoko mencontohkan sistem peringatan dini gempa dan potensi tsunami yang selama ini dilakukan dengan teknologi yang cepat dan masif antara lain media sosial cukup efektif mencegah korban jiwa.

“Sejak tiga bulan lalu fenomena ini sudah jelas, perlu kita siapkan langkah cepat.periodisitas El Nino dan La Nina saat ini semakin cepat, dua tahun sekali. La Nina tahun ini akan terjadi hingga awal tahun depan. Mulai Oktober wilayah Indonesia mengalami intensitas curah hujan tinggi. Kami akan membuat sistem peringatan dini yang lebih cepat dan akurat," kata Tri Handoko.

"BMKG sudah merilis hingga 20 Juni curah hujan tinggi mengguyur Indonesia, tapi kan tidak secara detail daerah mana. Nah ke depan peringatan dini akan sampai ke pemerintah kabupaten/kota, termasuk BPBD. Semua akan terdeteksi. Data satelit saat ini sudah setiap 10 menit diupdate, terdeteksi sekian jam hujan deras akan terjadi di daerah ini, sehingga warga di lokasi daerah itu akan menyiapkan diri atau melakukan antisipasi mencegah terjadinya korban jiwa," lanjutnya.

Sekarang ini, menurut Tri Handoko, informasi cuaca di BMKG, peta potensi bencana di BNPB, topografi daerah kerawanan bencana ada di LIPI, perlu dijadikan satu sistem. "Segera kita terapkan karena waktunya sudah mepet, maksimal Oktober karena La Nina akan menguat,” imbuh Tri Handoko.

Data Ikatan Ahli Bencana Indonesia atau IABI memaparkan global warming menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim saat ini. Intensitas perubahan ekstrim dulu tujuh tahun, semakin cepat lima tahun, hingga tiga tahun sekali.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB merilis 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah mengalami bencana banjir dan longsor. Hingga Juni 2016, data BNPB menyatakan telah terjadi 1.053 bencana di Indonesia, 157 orang meninggal, dan 1,7 juta jiwa mengungsi dan ratusan ribu rumah rusak.

Saat ini sejumlah daerah yang mengalami bencana alam di Indonesia mulai memasuki tanggap darurat, antara lain Purworejo di mana tanah longsor menewaskan 47 orang dan 15 lainnya hilang. Di Solo, Jawa Tengah, dan Padang, Sumatera Barat, terjadi banjir sehingga membuat ribuan warga mengungsi.

Tanah longsor di Kebumen menelan korban jiwa dua orang, dan di Pekalongan terjadi banjir rob atau pasang air laut. Bencana banjir bandang, longsor dan pasang air laut juga melanda Sangihe, Sulawesi Utara, mengakibatkan 4 orang tertimbun tanah dan 40 rumah rusak.

Meski banjir yang membanjiri rumah 1.000 keluarga di Solo akhir pekan mulai surut, hujan deras hampir empat jam Rabu malam (22/6) membuat rumah warga kembali terendam air. Walikota Solo, Hadi Rudyatmo kembali memperpanjang masa tanggap darurat bencana di Solo.

“Status tanggap darurat bencana banjir di Solo kami perpanjang. Semalam kan banjir terulang lagi di Solo, ya memang tidak separah banjir pekan lalu. Kami perpanjang sampai tujuh hari. Dengan kondisi ini kan kita bisa menyalurkan bantuan untuk warga korban banjir,” kata walikota Solo, Hadi Rudyatmo. [ys/lt]

XS
SM
MD
LG