Tautan-tautan Akses

Pakar AS Upayakan Tambah Jumlah Obat dari Organisme Laut


Samudera adalah salah satu sumber obat. Setidaknya ada 26 obat berasal dari organisme laut yang kini beredar di pasaran atau sedang dalam proses pembuatan (foto: dok.).

Samudera adalah salah satu sumber obat. Setidaknya ada 26 obat berasal dari organisme laut yang kini beredar di pasaran atau sedang dalam proses pembuatan (foto: dok.).

Beberapa pakar kimia Amerika sedang berupaya untuk meningkatkan jumlah obat yang berasal dari organisme laut yang kini sudah beredar di pasaran.

Sejak zaman kuno, manusia berpaling ke alam untuk mendapat obat. Ilmuwan modern pergi ke hutan-hutan tropis untuk mencari senyawa obat baru. Tetapi, samudera mungkin adalah sumber obat yang lebih baik. Setidaknya ada 26 obat berasal dari organisme laut yang kini beredar di pasaran atau sedang dalam proses pembuatan. Satu generasi pakar kimia yang inovatif berupaya meningkatkan jumlah tersebut.

Pakar kimia Mande Holford punya mitra yang tidak biasa untuk berburu obat-obat baru: siput laut lapar yang makan ikan. Penelitiannya terhadap makhluk laut itu, katanya, tidak sepenuhnya ilmiah.

"Saya jatuh cinta pada siput karena cangkang mereka sangat cantik," ungkap Holford.

Tetapi di sisi lain, Holford memperingatkan, siput proboscides yang berbentuk seperti lidah, mematikan. Siput menyemprot mangsanya dengan racun yang terbuat dari rantai asam amino, disebut peptida.

"Saya ingin menyatakan bahwa siput menghasilkan semacam bom rumpun. Dalam racun itu, terkandung antara 50 sampai 250 peptida. Semuanya menarget sesuatu yang besar dalam sistem saraf. Salah satu yang mereka hantam adalah sinyal rasa sakit. Kalau sinyal rasa sakit lumpuh, mangsa tidak bisa melawan atau menghindar," papar Holford.

Jadi, ikan tetap jauh lebih tenang daripada biasanya, bahkan ketika sedang dimakan. Pakar kimia sudah berhasil memanfaatkan peptida siput - obat yang disebut Prialt, yang meredakan rasa sakit bagi penderita HIV dan kanker.

"Pada syaraf, ada yang disebut 'gerbang' yang memungkinkan sesuatu berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Gerbang ini mengendalikan rasa sakit kronis. Pakar-pakar kimia mendapat cara untuk menutup gerbang ini dengan menggunakan salah satu peptida siput," ujar Holford lagi.

Mande Holford mungkin tertarik mempelajari siput karena kecantikan mereka. Tetapi, ia adalah bagian dari tren yang lebih luas terhadap penelitian kelautan.

David Newman, yang mengepalai cabang produk-produk alami pada Institut Kanker Nasional Amerika, menuturkan, "Kami sudah menemukan beberapa zat kimia yang sangat menarik."

Setelah bertahun-tahun mengumpulkan organisme darat, timnya kini hanya mengumpulkan mahluk laut, seperti spons atau karang. Alasannya, organisme-organisme itu tidak bisa bergerak, mereka bergantung pada penggunaan bahan-bahan kimia untuk mendapat mangsa.

"Selama ini saya dikenal sebagai orang yang menyatakan bahwa senjata pemusnah massal masih hidup dan tumbuh subur pada terumbu karang, jika Anda kebetulan adalah spons yang mencoba mengganggu atau bintang laut yang mencoba memakan spons. Keduanya adalah agen-agen yang sangat beracun karena efek dilusi air laut," ujarnya lagi.

Bagi perusahaan farmasi organisasi yang mencari obat-obat pembunuh sel kanker, bahan-bahan kimia ampuh itu merupakan senjata yang menarik.

Jauh di bawah terumbu karang, sekitar sembilan kilometer dibawah laut, terdapat apa yang mungkin bisa menjadi sumber obat yang bahkan lebih baik yaitu lumpur.

William Fenical, kepalai Pusat Bioteknologi Kelautan dan Biomedik pada Institut Oseanografi Scripps di California, mengatakan, "Hampir 70 persen permukaan bumi terdiri dari lumpur laut dalam."

Timnya memusatkan perhatian pada mikroorganisme yang hidup di dasar laut.

"Dalam lumpur samudera terkandung sekitar satu miliar sel dalam sesendok teh," tambahnya.

Sebagai perbandingan, itu satu juta kali lebih banyak bahan organik dari yang bisa kita temukan dalam tanah di darat.

Keragaman sup mikroba inilah yang menggairahkan Fenical.

"Dalam 50 tahun terakhir, mikroorganisme yang ada di darat lahan telah dimanfaatkan untuk memproduksi antibiotik, obat kanker, dan obat penurun kolesterol. Kami percaya, laut adalah sumber alam yang sangat baru bagi produk mikroba semacam itu," ujar Fenical.

Tim Fenical sedang membuat dua obat dan ia melihat prospek obat dari laut tidak terbatas.
XS
SM
MD
LG