Tautan-tautan Akses

AS

Peringatan Kerusuhan Los Angeles: Ketimpangan Rasial Masih Jadi Isu


Seorang perempuan menuliskan "Black Lives Matter" di pipinya saat menghadiri unjuk rasa di Atlanta menentang kekerasan polisi terhadap pemuda berkulit hitam di New York dan Ferguson (Foto: dok).

Seorang perempuan menuliskan "Black Lives Matter" di pipinya saat menghadiri unjuk rasa di Atlanta menentang kekerasan polisi terhadap pemuda berkulit hitam di New York dan Ferguson (Foto: dok).

Kerusuhan di Los Angeles pada tahun 1992 berlangsung hampir satu minggu dan menewaskan 55 orang sebelum ketertiban dipulihkan. Para penyerang King kemudian divonis melanggar hak-hak sipil.

29 April, 1992 di Los Angeles, California, pecah kerusuhan besar yang dianggap sebanding dengan kerusuhan hak-hak sipil pada pertengahan tahun 1960-an. Pemicunya adalah pembebasan empat polisi kulit putih yang terekam di video sedang memukuli Rodney King, pria berkulit hitam, dengan brutal.

King ditangkap oleh polisi setelah pengejaran dengan mobil berkecepatan tinggi satu tahun sebelumnya, dan juru kamera amatir merekam saat polisi menarik King dari kendaraannya dan menendang, memukul, dan mementungnya selama lebih dari satu menit. Rekaman itu dirilis ke media berita dan peristiwa itu menjadi terkenal sebagai simbol kebrutalan polisi AS.

Komentar sedih King kepada media selama kerusuhan itu "Tidak bisakah kita semua akur?" menjadi istilah untuk kesan negatif mengenai hubungan ras di Amerika yang muncul dari kerusuhan tersebut.

Kerusuhan di Los Angeles pada tahun 1992 berlangsung hampir satu minggu dan menewaskan 55 orang sebelum ketertiban dipulihkan. Para penyerang King kemudian divonis melanggar hak-hak sipil.

Dua puluh tahun kemudian, di sisi lain Amerika Serikat, serentetan insiden rasial yang sangat disorot menandakan bahwa tidak banyak perubahan sejak kerusuhan tahun 1992. [as/uh]

XS
SM
MD
LG