Tautan-tautan Akses

Oposisi Yaman Tolak Seruan Presiden Saleh soal Jaminan


Demonstran anti pemerintah menggantung patung Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dalam unjuk rasa di Sanaa (15/10).

Demonstran anti pemerintah menggantung patung Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dalam unjuk rasa di Sanaa (15/10).

Pemimpin oposisi Mohammed Qahtan mengatakan penolakan Saleh untuk mengundurkan diri sama saja dengan 'seruan perang'.

Para pemimpin oposisi Yaman mengritik Presiden Ali Abdullah Saleh karena menyatakan bahwa ia memerlukan jaminan tertentu untuk menandatangani prakarsa yang menyerukan pengunduran dirinya.

Pemimpin oposisi Mohammed Qahtan hari Kamis mengatakan penolakan Saleh untuk menandatangani rencana itu dan mengundurkan diri sama saja dengan seruan “perang.” Prakarsa Dewan Kerjasama Teluk (GCC) menyerukan agar pemimpin Yaman itu menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya.

Tetapi hari Rabu, Saleh mengatakan ia baru akan menyetujui langkah tersebut jika ia menerima jaminan mengenai jadwal penerapan rencana dari negara-negara Teluk, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Saleh mengatakan mendapat tekanan internasional untuk menandatangani kesepakatan itu.

Hari Rabu, Amerika menolak seruan Selah bagi jaminan internasional mengenai jadwal itu dengan menyebut hal tersebut tidak perlu. Jurubicara Departemen Luar Negeri Amerika Mark Toner mengatakan Saleh harus menandatangani persetujuan GCC itu tanpa penundaan lebih lanjut.

Sementara itu, para pendukung resolusi PBB yang menyerukan segera diakhirinya kekerasan dan pengalihan kekuasaan di Yaman, telah mengedarkan rancangan resolusi itu kepada para anggota Dewan Keamanan dan berharap akan mengadakan pemungutan suara sebelum awal pekan depan.

Para diplomat hari Rabu mengatakan kelima anggota tetap Dewan Keamanan telah mencapai kesepakatan mengenai unsur-unsur penting dalam rancangan yang disusun Inggris tersebut.

XS
SM
MD
LG