Tautan-tautan Akses

Oposisi Singapura Berpeluang Rebut Lebih Banyak Kursi Suara pada Pemilu Sabtu Ini

  • Daniel Schearf

Deputi PM Singapura Wong berbicara pada kampanye akhir Partai Aksi Rakyat di Singapura, Kamis (5/5).

Deputi PM Singapura Wong berbicara pada kampanye akhir Partai Aksi Rakyat di Singapura, Kamis (5/5).

Penduduk Singapura pergi ke tempat pemungutan suara hari Sabtu dalam pemilu yang paling diperebutkan sejak tahun 1965 ketika negara itu merdeka dari Inggris.

Penduduk Singapura pergi ke tempat pemungutan suara hari Sabtu dalam pemilu yang paling diperebutkan sejak tahun 1965 ketika negara itu merdeka dari Inggris.

Partai Aksi Rakyat yang dipimpin PM Lee Hsien Loong telah berkuasa di Singapura sejak kemerdekaan tahun 1965, tetapi partai ini menghadapi tantangan yang semakin meningkat yang telah mengikis reputasinya.

Baru-baru ini, analis juga mengatakan, partai oposisi tidak mau atau tidak mampu menantang kekuasaan Partai Aksi Rakyat. Kebijakan partai itu telah mengubah negara itu dari kota pelabuhan kolonial miskin menjadi pusat bisnis regional.

Dan tak seperti kebanyakan negara Asia yang didominasi partai tunggal, Singapura adalah suar bagi kemakmuran dan tata pemerintahan yang baik.

Tetapi dalam pemilu hari Sabtu, kandidat partai oposisi bersaing untuk mendapatkan 82 dari 87 kursi parlemen, membuat pemilu ini menjadi yang paling diperebutkan sejak kemerdekaan negara itu

Gillian Koh seorang peneliti politik dan pemerintahan pada Institut Studi Kebijakan Singapura. Dia mengatakan partai oposisi setuju dengan kebanyakan kebijakan Partai Aksi Rakyat membuat persaingan menjadi sulit. Ia mengatakan,“Partai Aksi Rakyat bisa memerintah selama 52 tahun karena telah berhasil membuat tata pemerintahan yang baik, memajukan perekonomian. Tetapi pesaingnya selalu mengatakan derap pertumbuhan politik ketinggalan.”

Dalam pemilu sebelumnya, partai oposisi sadar akan peluang mereka, hanya bersaing dalam sebagian kecil kursi yang tersedia dan sedang dikuasai, maksimal hanya beberapa kursi di parlemen.

Tetapi Koh mengatakan mereka berhasil memanfaatkan ketidakpuasan akhir-akhir ini dengan partai itu sehubungan dengan naiknya harga, akuntabilitas pemerintah dan imigrasi.

Pekerja asing merupakan sepertiga dari seluruh populasi Singapura, membuat banyak warga Singapura mengeluh akan persaingan kerja dan transportasi umum.

Akibatnya suara untuk Partai Aksi Rakyat turun dari 75 persen pada pemilu 2001 menjadi 67 persen pada pemilu 2006

Koh mengatakan walaupun masyarakat menggerutu dan belum pernah ada tantangan sebelumnya pada pemilu, Partai Aksi Rakyat tetap populer karena tanggapan tepatnya atas keluhan masyarakat. Lebih lanjut ia mengatakan,“Legitimasi mendasar Partai Aksi rakyat terletak pada kemampuan partai ini bertumbuh dan bersih. Karena saat pertama kali berkuasa, bagaimana partai ini menggambarkan diri benar-benar bertolakbelakang dengan apa yang terjadi di Singapura waktu itu. Dan partai ini sadar untuk tetap mempertahankan pilar itu demi keberlangsungannya.”

Pemerintah telah memperbaiki pengawasan imigrasi dan berjanji akan meningkatkan transportasi dan pelayanan sosial.

Menjelang pemilu, pihak berwenang mengijinkan kritik dari pihak oposisi dalam media pemerintah dan internet yang biasanya dikontrol ketat.

Partai Aksi Rakyat telah dituduh menggunakan tuntutan hukum pencemaran nama baik untuk membungkan kritik dan memberlakukan hukuman keras bagi pengedar obat terlarang dan pengacau untuk menjaga ketertiban.

Singapura juga melarang diskusi politik menyangkut etnis dan agama.

XS
SM
MD
LG