Tautan-tautan Akses

Para Pemimpin Oposisi Libya Tolak Kepemimpinan Gaddafi


Para pemimpin oposisi Libya tidak akan menerima kesepakatan apapun bila Moammar Gaddafi masih tetap berkuasa.

Para pemimpin oposisi Libya tidak akan menerima kesepakatan apapun bila Moammar Gaddafi masih tetap berkuasa.

Kubu oposisi mengatakan tidak akan menerima berlanjutnya kepemimpinan Gaddafi karena penindasan yang dilakukannya terhadap rakyat.

Para pemimpin oposisi yang berpangkalan di Libya timur telah menolak berlanjutnya kepemimpinan Moammar Gaddafi atau keluarganya, sebagai bagian dari solusi diplomatik terhadap krisis di Libya. Mereka menanggapi laporan-laporan tentang kesepakatan yang diusulkan untuk mengakhiri konflik selama enam minggu itu.

Seorang juru bicara Dewan Nasional Transisi oposisi, Mustafa Gheriani, mengatakan Dewan itu tidak akan menerima kesepakatan apapun yang memungkinkan pemimpin Libya Moammar Gaddafi tetap berkuasa setelah memerintah secara otoriter selama 41 tahun.

Gheriani mengatakan, "Rezim Kolonel Gaddafi adalah rezim yang telah menyiksa rakyat. Dialah yang merusak rumah-rumah mereka. Dan akhirnya rakyat merasakan kebebasan dan saya rasa kita tidak mau kembali ke masa gelap itu."
Juru bicara pemerintahan Gaddafi, Moussa Ibrahim saat memberikan keterangan pers di Tripoli (31/3).

Juru bicara pemerintahan Gaddafi, Moussa Ibrahim saat memberikan keterangan pers di Tripoli (31/3).

Dia menanggapi pernyataan juru bicara Gaddafi, Mussa Ibrahim, yang mengatakan pemerintah di Tripoli bersedia merundingkan sistem politik baru tetapi bukan turunnya kolonel yang sudah lama berkuasa itu.

Pernyataan tersebut menyusul laporan-laporan tentang asal-usul diplomatik yang menyebutkan supaya Gaddafi digantikan oleh salah seorang putranya.

Seorang anggota komite penasehat politik Dewan Transisi, profesor ilmu politik Zahi Mogherbi, mengatakan rakyat Libya tidak akan menghendaki kompromi semacam itu.
"Rakyat Libya, setelah apa yang mereka alami selama rezim itu – setelah pengorbanan besar dan berharga dalam memperjuangkan kebebasan - tidak akan menerima apapun selain kebebasan penuh dan demokrasi," ujar Mogherbi.

Upaya-upaya diplomatik tersebut muncul ketika pasukan pemerintah mendorong pasukan oposisi keluar dari kota minyak Brega, sekitar 200 kilometer sebelah barat Benghazi.

Daerah ini telah berganti tangan beberapa kali sejak para pemberontak dua minggu lalu mengusir pasukan pro-Gaddafi dari Benghazi dengan bantuan serangan udara koalisi internasional.

Kawasan Brega dan kota terbesar ketiga di Libya, Misrata, terus menanggung akibat pertempuran. Sebuah kapal kemanusiaan Turki kembali ke Turki dengan membawa 250 korban luka-luka karena pertempuran di daerah Misrata dan Brega.

XS
SM
MD
LG