Tautan-tautan Akses

Operasi di Libya, Ujian Utama Strategi Militer Presiden Obama

  • Dan Robinson

Presiden Obama memberikan penjelasan di Gedung Putih mengenai operasi militer Amerika di Libya dan memberi pernyataan soal kematian Gaddafi (20/10).

Presiden Obama memberikan penjelasan di Gedung Putih mengenai operasi militer Amerika di Libya dan memberi pernyataan soal kematian Gaddafi (20/10).

Sejak awal operasi di Libya, Presiden Obama telah menegaskan bahwa tentara Amerika tidak akan terlibat di medan pertempuran darat.

Tewasnya mantan pemimpin Libya Moammar Gaddafi terjadi tepat tujuh bulan setelah dimulainya operasi militer yang awalnya dipimpin oleh Amerika dan kemudian diambil alih oleh NATO.

Dalam pidato tanggal 28 Maret, Presiden Barack Obama mengatakan Amerika bertanggung jawab membantu melindungi warga sipil yang terancam oleh Moammar Gaddafi dan kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai Amerika yang dipertaruhkan di Libya.

Operasi militer yang dimulai bulan Maret lalu dengan serangan rudal Amerika dan pesawat-pesawat tempur Prancis segera beralih menjadi operasi yang dipimpin NATO, dan menjadi ujian utama dari upaya Obama untuk menanggung bersama beban operasi militer diantara negara-negara sekutu utama dan mitranya.

Sejak awal, Obama menegaskan bahwa tentara Amerika tidak akan terlibat di medan pertempuran darat. Ia menegaskan perbedaan antara situasi di mana kekuatan militer diperlukan, seperti Afghanistan, dan di mana kepentingan Amerika tidak secara langsung terpengaruh.

Tapi presiden mengatakan Amerika berkewajiban menanggapi ancaman "kemanusiaan secara umum dan keamanan bersama." Ia mengatakan kebijakan Amerika didasarkan pada prinsip-prinsip utama, termasuk mendukungan hak-hak universal dan pemerintah yang tanggap terhadap aspirasi rakyat mereka.

Obama menegaskan prinsip-prinsip tersebut ketika berbicara hari Kamis (20/10) di Gedung Putih.

"Untuk daerah tersebut, kejadian hari ini membuktikan sekali lagi bahwa pemerintahan tangan besi pasti berakhir. Di seluruh negara-negara Arab, rakyatnya memperjuangkan hak-hak mereka. Pemuda-pemudi menyatakan penolakan yang kuat terhadap kediktatoran. Dan para pemimpin yang berupaya untuk tidak mengindahkan martabat kemanusiaan dari rakyatnya maka mereka tidak akan berhasil," kata Obama.

Pakar Timur Tengah, Aaron David Miller sebelumnya adalah penasihat untuk enam Menteri Amerika dan sekarang bekerja untuk Woodrow Wilson Institute di Washington.

Ia mengatakan kejadian di Libya membenarkan tindakan Obama untuk melakukan "investasi Amerika dalam biaya yang relatif rendah" yang memungkinkan rakyat Libya mengalahkan Gaddafi, namun dampak yang lebih luas masih belum jelas.

"Kita tidak bisa melakukan hal sama di Suriah seperti yang dilakukan di Libya dan negara-negara Arab lainnya. Rakyat Saudi dan Yordania pada akhirnya akan dihadapkan juga dengan tuntutan reformasi politik yang lebih besar dan lebih menghargai HAM serta transparansi," papar Miller.

Adapun "doktrin" Obama mengenai penggunaan kekuatan militer, Miller mengatakan masih sulit untuk menerapkan model tunggal bagi semua kebangkitan negara-negara Arab.

Leslie Gelb dari organisasi Dewan Hubungan Luar Negeri mengatakan, "Orang mulai berdebat apakah kita harus mengambil peran dalam menyingkirkan diktator. Tapi mereka segera menyadari bahwa kebijakan seperti itu penuh kontradiksi. Pemerintahan Saudi adalah diktator. Apakah kita akan melakukan sesuatu dan membantu menggulingkan mereka? Tidak mungkin ?"

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Presiden Obama mengatakan Amerika tidak berandai-andai, katanya Libya menghadapi “jalan panjang dan berliku" ke masa depan dengan demokrasi sepenuhnya. Namun ia mengatakan Amerika dan masyarakat internasional tetap berkomitmen untuk membantu rakyat Libya.

XS
SM
MD
LG