Tautan-tautan Akses

AS

Obama Terus Tekankan Posisinya Dalam Krisis Fiskal


Presiden AS Barack Obama saat meninjau pabrik mesin otomotif Daimler Detroit Diesel di Redford, Michigan. (AP/Charles Dharapak)

Presiden AS Barack Obama saat meninjau pabrik mesin otomotif Daimler Detroit Diesel di Redford, Michigan. (AP/Charles Dharapak)

Presiden AS Barack Obama mengunjungi jantung industri Amerika untuk mencari dukungan atas rencana kenaikan pajak warga terkaya.

Presiden AS Barack Obama, presiden dari Partai Demokrat yang kembali terpilih untuk masa jabatan empat tahun, berpidato bak kampanye di hadapan pekerja pabrik otomotif di Michigan, Senin (10/12).

Presiden Obama mencari dukungan bagi rencananya mengakhiri krisis yang disebut jurang fiskal – mandat pemangkasan belanja dan peningkatan pajak bernilai US$600 miliar yang akan mempengaruhi hampir semua pekerja Amerika dan dijadwalkan mulai berlaku 1 Januari.

Gedung Putih ingin mengakhiri keringanan pajak bagi warga terkaya Amerika – warga dengan penghasilan lebih dari $250.000 per tahun.

“Keberhasilan ekonomi kita tidak pernah tercipta dari kelas atas ke bawah. Itu tercipta dari kelas menengah. Itu tercipta dari kelas bawah ke atas. Itu tercipta dari orang-orang seperti Anda yang bekerja keras,” kata Obama.

Partai Republik di Kongres menolak menaikkan pajak bagi siapapun terlepas besar pendapatan mereka. Tetapi sejumlah anggota fraksi Partai Republik mulai mengatakan kenaikkan pajak mungkin dibutuhkan untuk mencapai kompromi asal Presiden Obama mengurangi pengeluaran dalam program-program asuransi kesehatan bagi orang lanjut usia dan miskin.

Presiden Obama pada Minggu bertemu dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat John Boehner di Gedung Putih, dalam pertemuan tatap muka pertama mereka mengenai krisis fiskal sejak pertengahan November. Tidak ada rincian mengenai pertemuan tersebut, tetapi kedua pihak mengatakan jalur komunikasi tetap terbuka.

Para ekonom mengatakan, jika berlaku, pemangkasan belanja dan kenaikan pajak dapat menjatuhkan ekonomi Amerika, yang terbesar di dunia, ke dalam resesi kedua dalam tiga tahun.
XS
SM
MD
LG