Tautan-tautan Akses

AS

Obama Sambut Suu Kyi untuk Bicarakan Sanksi


Presiden AS Barack Obama bersama Aung San Suu Kyi dalam KTT AS-ASEAN di Vientiane, Laos (8/9). (Reuters/Jorge Silva)

Presiden AS Barack Obama bersama Aung San Suu Kyi dalam KTT AS-ASEAN di Vientiane, Laos (8/9). (Reuters/Jorge Silva)

Amerika ingin memastikan bahwa sanksi-sanksi tidak akan menghalangi investasi asing di Myanmar yang pada dasarnya akan membantu rakyat negara itu.

Presiden AS Barack Obama menyambut pemimpin de facto Myanmar dan ikon negara itu Aung San Suu Kyi yang berkunjung ke Gedung Putih hari Rabu (14/9).

Ini adalah kunjungan Suu Kyi yang pertama ke Amerika sebagai penasihat negara dan menteri luar negeri, jabatan yang kini dipegangnya karena konstitusi yang berasal dari zaman militer mencegahnya menjadi presiden karena suami dan anak-anaknya adalah warga negara asing.

Suu Kyi mendekam dalam tahanan rumah lebih dari 20 tahun, dan pertemuannya dengan presiden Obama di Oval Office dianggap sebagai pengakuan bahwa ia adalah pemimpin de facto Myanmar.

Menurut pejabat Gedung Putih, Obama ingin mendengar langsung dari Suu Kyi seberapa jauh Amerika harus bertindak untuk mencabut sanksi-sanksi terhadap kelompok militer Myanmar. Sejak memegang jabatannya yang baru bulan Maret, Suu Kyi belum menyerukan diakhirinya semua sanksi, untuk mendorong pihak militer supaya mengadakan lebih banyak pembaharuan demokratis.

Wakil penasihat keamanan nasional AS, Ben Rhodes mengatakan kemarin, Amerika ingin memastikan bahwa sanksi-sanksi Amerika itu tidak akan menghalangi investasi asing di Myanmar yang pada dasarnya akan membantu rakyat negara itu.

Karena itu, kata Rhodes, “pandangan pemerintah Myanmar sangat penting bagi kami.” Juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner mengatakan pada wartawan bahwa pencabutan sanksi-sanksi akan selalu dihubungkan dengan kemajuan dalam bidang demokrasi.

“Kami belum siap untuk mencabut semua sanksi. Sebagian dari sanksi-sanksi itu akan tetap berlaku, dan kami punya hak untuk melanjutkannya selama kami anggap ada manfaatnya," katanya.

Obama telah melonggarkan sebagian sanksi tahun 2013, dan beberapa perusahaan besar Amerika, termasuk Coca Cola dan General Motors telah membuka cabang usaha di Myanmar. [sp]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG