Tautan-tautan Akses

Obama Puji Kemajuan Hubungan AS-Kuba, Akui 'Perbedaan Serius'


Presiden AS Barack Obama dan ibu negara Michelle menghadiri acara jamuan makan malam atas undangan Presiden Kuba Raul Castro (kiri) di Havana, Senin (21/3).

Presiden AS Barack Obama dan ibu negara Michelle menghadiri acara jamuan makan malam atas undangan Presiden Kuba Raul Castro (kiri) di Havana, Senin (21/3).

Di samping memuji kemajuan hubungan AS dengan Kuba, Presiden Obama mengakui bahwa kedua negara masih memiliki “perbedaan serius” tentang demokrasi dan HAM.

Presiden Amerika Barack Obama hari Senin (21/3) memuji kemajuan dalam hubungan antara Amerika dan Kuba, meski mengakui bahwa kedua pihak masih memiliki “perbedaan yang sangat serius” tentang demokrasi dan hak asasi.

Dalam konferensi pers bersama, Presiden Kuba Raul Castro menyambut baik pelonggaran kebijakan perdagangan dan pembatasan perjalanan yang diumumkan pemerintah Amerika baru-baru ini, tetapi menegaskan perlunya mencabut embargo perdagangan yang sudah diberlakukan terhadap Kuba selama 55 tahun. Castro juga menyerukan kepada Amerika untuk mengembalikan lahan di Teluk Guantanamo yang digunakan sebagai pangkalan Angkatan Laut Amerika.

Presiden Castro juga mempertanyakan asumsi banyaknya tahanan politik di Kuba. Menjawab pertanyaan salah seorang wartawan tentang hal ini, Castro menantang dengan mengatakan “beri saya daftar tahanan politik yang disebut-sebut itu dan saya akan bebaskan mereka semua sebelum malam ini berakhir”.

Presiden Obama memulai hari kedua dalam kunjungan selama tiga hari dengan meletakkan karangan bunga di tugu pahlawan kemerdekaan Kuba – Jose Marti – di Plaza of the Revolution.

“Merupakan suatu kehormatan untuk bisa menyampaikan penghargaan kepada Jose Marti, yang mengorbankan jiwa demi kemerdekaan tanah airnya. Cita-citanya untuk meraih kebebasan, kemerdekaan dan menentukan nasib sendiri saat ini hidup dalam setiap warga Kuba”, demikian tulis Obama dalam buku tamu.

Pemimpin Amerika itu kemudian bertemu dengan Presiden Raul Castro di Istana Revolusi – yang terletak di dekat tugu itu – sehari setelah membuat sejarah sebagai presiden pertama Amerika yang berkunjung ke negara kepulauan itu dalam 90 tahun.

Hari Minggu (20/3) warga Havana berdiri di sepanjang jalan ketika rombongan Presiden Obama lewat, sebagian melambaikan tangan, bersorak, meniupkan kecupan dan meneriakkan nama Obama.

Presiden Obama dijadwalkan bertemu dengan beragam kalangan di sana, mulai dari pemuka pemerintahan, pebisnis, anggota masyarakat madani, kawula muda dan pembangkang, sesuatu yang menurut beberapa pejabat Gedung Putih membuat pemerintah Kuba tidak terlalu gembira.

Hari Minggu (20/3) puluhan anggota kelompok oposisi the Ladies in White dan beberapa pendukung pembangkang ditangkap ketika melakukan pawai mingguan menuju Taman Gandhi. Sebagian besar di antara mereka dibebaskan beberapa jam kemudian, ujar pemimpin the Ladies in White – Berta Soler kepada VOA. Soler menambahkan ada sekitar 10 aktivis lain yang belum diketahui keberadaannya. Kelompok itu berencana menggelar lebih banyak demonstrasi selama lawatan Obama.

Pembicaraan antara Obama dan Castro hari Senin (21/3) diperkirakan mencakup bagaimana memperluas proses normalisasi hubungan, memulihkan hubungan dengan rakyat Kuba, membuka lebih banyak kesempatan untuk saling terlibat dan mendorong lebih banyak kesempatan di bidang-bidang yang menjadi perhatian bersama, demikian ujar Wakil Penasehat Keamanan Nasional Ben Rhodes.

Castro diperkirakan akan menyerukan tindakan pencabutan embargo perdagangan yang sudah diberlakukan Amerika selama 55 tahun.

Kongres yang didominasi fraksi Republik bisa mencabut embargo itu, tetapi ada ketidaksepahaman tentang kebijakan Amerika atas Kuba, mulai dari soal isolasi hingga keterlibatan dengan Kuba.

Untuk menggalakkan kebijakan baru Amerika pada tahun terakhir masa jabatannya, Presiden Obama membutuhkan dukungan kedua fraksi Kongres. Ia telah mengajak sejumlah besar delegasi anggota Kongres dari fraksi Republik dan Demokrat, yang kini juga telah berada di Havana.

Setelah pertemuan bilateral itu, Presiden Obama dan Presiden Castro diperkirakan akan memberikan keterangan kepada media.

Kemudian Presiden Obama akan menghadiri acara yang difokuskan pada kewirausahaan, di mana beberapa sesi akan melibatkan pebisnis Amerika keturunan Kuba dan pebisnis Kuba guna membahas perubahan kebijakan yang dilakukan kedua negara yang bisa menggerakkan lebih banyak hubungan perdagangan.

Sejak kedua negara memulihkan hubungan diplomatik secara resmi bulan Juli lalu, Amerika telah melonggarkan kebijakan perdagangan dan perjalanan wisata, yang kini memperbolehkan kontak antar individu di Kuba dan Amerika.

Presiden Obama juga akan menghadiri jamuan makan malam di Istana Revolusi Senin malam (21/3).

Tetapi sorotan utama lawatan ini menurut Gedung Putih adalah pidato yang akan disampaikan kepada rakyat Kuba pada hari Selasa (22/3). Ia diperkirakan akan bicara tentang sejarah rumit dan sulit antara kedua negara, kondisi saat ini yang mendorong normalisasi hubungan dan visinya di masa depan bagi hubungan antar dua bekas musuh Perang Dingin. [em]

XS
SM
MD
LG