Tautan-tautan Akses

AS

Obama Puji Keluarga Korban Penembakan di Charleston


Presiden AS Barack Obama, didampingi Wakil Presiden Joe Biden, menyampaikan pernyataan menanggapi pembantaian di Charleston, South Carolina (18/6). (AP/Susan Walsh)

Presiden AS Barack Obama, didampingi Wakil Presiden Joe Biden, menyampaikan pernyataan menanggapi pembantaian di Charleston, South Carolina (18/6). (AP/Susan Walsh)

Obama mengatakan, pernyataan pemberian maaf keluarga merupakan ungkapan keyakinan agama yang luar biasa dan mencerminkan kebaikan rakyat Amerika.

Presiden AS Barack Obama merasa sangat tersentuh oleh keluarga dan kerabat para korban penembakan di sebuah gereja kulit hitam bersejarah yang mengatakan mereka bersedia memaafkan seorang pria kulit putih yang telah diidentifikasi sebagai pembunuh dalam insiden itu.

Obama mengatakan, Jumat (19/6), pernyataan pemberian maaf keluarga merupakan ungkapan keyakinan agama yang luar biasa dan mencerminkan kebaikan rakyat Amerika.

Suasana penuh emosi tercipta di sebuah ruang pengadilan di Charleston, South Carolina, Jumat sore, ketika keluarga dan kerabat kesembilan korban pembantaian di gereja Emanuel AME mengungkapkan perasaan mereka terhadap pria yang dituduh bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

Anak perempuan Ethel Lance, salah satu korban yang berusia 70 tahun, mengatakan, Dylann Roof, sang tersangka pembunuh, telah mengambil sesuatu yang sangat berharga darinya dan kini ia tidak akan lagi bisa berbincang-bincang dengan ibunya.

Dengan suara yang terdengar penuh kepedihan, perempuan itu mengatakan, “Tuhan memaafkan kamu. Saya memaafkan kamu.” Ethel Lance semasa hidupnya bertugas sebagai pengurus gereja Emanuel.

Roof menyaksikan pernyataan keluarga korban di ruang pengadilan dari kejauhan, melalui video yang dihubungkan ke sebuah ruangan khusus dimana ia diapit dua penegak hukum bersenjata lengkap.

Menghadapi sembilan dakwaan pembunuhan, Roof akan tetap ditahan, setelah menerima keputusan tidak akan dibebaskan dengan uang jaminan.

Aksi penembakan yang dilakukan Roof menewaskan sembilan orang, enam diantaranya adalah perempuan. Seorang keluarga korban mengatakan, sebelum melangsungkan aksi penembakan, Roof yang berkulit putih, mengatakan kepada kelompok studi Injil yang semuanya berkulit hitam, yang menjadi korban di gereja itu, “kalian memperkosa perempuan-perempuan kami dan kalian mengambil alih negara. Saya harus lakukan apa yang saya harus lakukan.”

Roof, 21, ditangkap di negara bagian North Carolina, Kamis, sewaktu berusaha melarikan diri dengan mobil. Ia akan kembali tampil di pengadilan Oktober mendatang.

XS
SM
MD
LG