Tautan-tautan Akses

AS

Obama, Netanyahu Bahas Situasi Keamanan di Timur Tengah


Presiden AS Barack Obama (kanan) menerima PM Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih hari Senin (9/11).

Presiden AS Barack Obama (kanan) menerima PM Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih hari Senin (9/11).

Presiden AS Barack Obama dan PM Israel Benjamin Netanyahu mengadakan pertemuan di Washington DC Senin (9/11) dan berupaya menemukan cara untuk mengatasi memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah.

Kedua pemimpin ini kerap berselisih dan pertemuan kali ini adalah yang pertama dalam lebih dari satu tahun.

Pembicaraan di Gedung Putih hari Senin (9/11) terjadi pasca tentangan keras PM Israel Benjamin Netanyahu terhadap perjanjian nuklir Iran yang dirundingkan bulan Juli oleh Amerika dan lima negara adidaya. Namun, Presiden AS Barack Obama menyebut ketidaksepahaman atas isu itu kecil, dibandingkan dengan kepentingan menyeluruh dari hubungan Amerika Israel.

Kedua pemimpin menyambut hangat aliansi keamanan dan militer yang sudah berlangsung sejak lama antar kedua negara, bahkan Obama menyebut “keamanan Israel merupakan salah satu tujuan utama kebijakan luar negerinya”.

Obama mengatakan ia dan Netanyahu akan membahas “bagaimana kita bisa memadamkan kegiatan” ISIS, Hizbullah dan kelompok-kelompok gerilyawan lain yang “melancarkan teror”.

Meskipun Obama menyadari adanya tentangan Israel terhadap perjanjian nuklir yang akan membatasi program nuklir Iran dan sekaligus mencabut sanksi-sanksi ekonomi terhadap negara itu, Obama mengatakan kedua pemimpin akan menemukan kesamaan “untuk mengatasi destabilisasi kegiatan yang mungkin dilakukan Iran”.

Pejabat-pejabat pemerintahan Obama pekan lalu mengatakan Presiden Amerika itu tidak lagi yakin bahwa perjanjian pembentukan negara Palestina bisa tercapai sebelum masa jabatannya berakhir pada awal tahun 2017. Netanyahu mengatakan “kita tidak menyerah pada harapan tercapainya perdamaian, dua negara bagi dua rakyat” dengan negara Palestina tanpa militer dan pengakuan hak eksistensi negara Yahudi itu.

Netanyahu merupakan salah seorang dari pengecam keras perjanjian Iran, dengan mengatakan perjanjian itu tidak akan mengurangi upaya Iran memiliki senjata nuklir dan akan membahayakan Israel. Beberapa jam sebelum meninggalkan Israel, Netanyahu mengatakan pembicaraan di Washington akan dipusatkan pada “penguatan keamanan Israel”.

“Saya kira tidak ada orang yang meragukan tekad Israel untuk membela diri terhadap teror dan kehancuran. Dan seharusnya tidak ada yang meragukan kesediaan Israel untuk berdamai dengan negara tetangga yang secara tulus ingin mencapai perdamaian dengan kami,” papar Netanyahu.

Israel sudah menerima bantuan militer dari Amerika sebesar lebih dari tiga trilyun dolar per tahun dan beberapa pejabat mengatakan Netanyahu berharap bisa meningkatkan bantuan militer itu menjadi empat hingga lima milyar dolar per tahun. Perjanjian pemberian bantuan militer selama 10 tahun sekarang ini akan berakhir tahun 2017.

Obama dan Netanyahu juga membahas gelombang aksi kekerasan terbaru Israel-Palestina sejak dua bulan lalu di tempat suci Yerusalem, yang meluas ke seluruh Israel serta Tepi Barat dan Jalur Gaza. [em/jm]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG