Tautan-tautan Akses

AS

Obama: Mungkin Saja Penembakan di California terkait Teroris


Presiden AS Barack Obama memberikan pernyataan mengenai insiden penembakan di California, dalam konferensi pers di Gedung Putih Kamis (3/12) siang.

Presiden AS Barack Obama memberikan pernyataan mengenai insiden penembakan di California, dalam konferensi pers di Gedung Putih Kamis (3/12) siang.

Presiden AS Barack Obama juga menyatakan rasa frustrasinya melihat terus terjadinya insiden seperti ini, terlebih mengingat jumlah pembeli senjata api tahun ini meningkat.

Kepala Kepolisian San Bernardino, California Jarrod Burguan memastikan jumlah dan kondisi korban, serta pelaku penembakan di sebuah pusat latihan penderita gangguan mental hari Rabu (2/12) itu dalam sebuah konferensi pers yang juga dihadiri sejumlah agen badan federal seperti ATF dan FBI.

Sedikitnya 14 orang tewas dan 21 lainnya luka-luka – belum termasuk dua penembak yaitu pasangan Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik. Polisi mengatakan Farook yang kelahiran Illlinois dan bekerja sebagai pengawas kesehatan di pusat latihan itu, bersama istrinya yang berkewarganegaraan Pakistan, melepaskan sedikitnya 76 tembakan membabibuta dan meninggalkan sebuah mobil mainan berisi tiga bom pipa yang dilengkapi pengendali dari jarak jauh, tetapi gagal diledakkan.

Polisi juga menemukan lebih dari 1.500 butir peluru dan sedikitnya empat senjata api dalam mobil SUV yang digunakan untuk melarikan diri.

Ditambahkannya, di rumah pasangan penembak itu polisi juga menemukan 12 bom pipa, bahan-bahan pembuat bom dan sedikitnya 4.500 butir peluru.

FBI: Pelaku Tak Ada dalam Daftar Pemantauan Tersangka Teroris

Pejabat FBI, David Bowdich hari Kamis (3/12) mengatakan Farook melakukan perjalanan ke luar negeri dan kembali ke Amerika pada bulan Juli 2014 bersama Malik, yang memasuki Amerika dengan menggunakan paspor Pakistan. Bowdich mengatakan pasangan itu kemudian menikah. Keduanya tidak pernah berada dalam daftar pemantauan tersangka teroris.

Tim penyelidik mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan motif pasangan itu melakukan penembakan membabibuta. Sejumlah piranti digital pasangan itu telah disita sebagai barang bukti.

Obama: Motif Serangan Masih Belum Diketahui

Dalam konferensi pers di Gedung Putih Kamis (3/12) siang, Presiden Barack Obama mengatakan terorisme atau perselisihan di tempat kerja bisa menjadi motif pasangan itu melakukan serangan.

“Mungkin saja penembakan ini terkait teroris, tetapi kita masih belum tahu. Mungkin juga serangan ini terkait perselisihan di tempat kerja,” ujar Obama.

Bendera di Gedung Putih dikibarkan setengah tiang hari Kamis (3/12) untuk menghormati korban penembakan di San Bernardino, California.

Bendera di Gedung Putih dikibarkan setengah tiang hari Kamis (3/12) untuk menghormati korban penembakan di San Bernardino, California.

Presiden Obama memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh gedung-gedung pemerintah, kedutaan besar dan instalasi militer hingga hari Senin (7/12) guna menghormati korban penembakan tersebut.

Aksi penembakan ini hanya berselang beberapa hari dari penembakan di klinik “Planned Parenthood” di Colorado Springs – Colorado yang menewaskan tiga orang dan melukai sembilan lainnya. Penembakan di San Bernardino ini merupakan insiden ke-355 pada tahun 2015 ini, dimana empat atau lebih lebih orang meninggal.

Pembelian Senjata Api Justru Meningkat

Dalam perkembangan lainnya pembelian senjata api tetap meningkat, bahkan menjadi salah satu yang paling dicari warga dalam musim diskon “Black Friday” akhir pekan lalu. Menurut FBI’s National Instant Criminal Background Check System ada 185.345 permohonan pemeriksaan latar belakang untuk memiliki senjata api pada tanggal 27 November atau sehari setelah Thanksgiving, yang dinilai sebagai musim belanja tertinggi. Menurut Kepala FBI’s multimedia production Stephen Fischer – dalam tulisannya di suratkabar USA Today – terjadi peningkatan 5% dibanding tahun lalu yang mencapai 175.754.

“Black Friday” tahun 2012 hingga 2014 adalah salah satu masa di mana FBI paling banyak menerima permintaan pemeriksaan latar belakang untuk memiliki senjata api. Sejak melakukan pemeriksaan dan pencatatan pada tahun 1998, ada sekitar 220 juta senjata api yang tercatat dimiliki warga.

Selain musim diskon seperti “Black Friday”, penjualan senjata api juga diketahui meningkat setelah terjadi insiden penembakkan massal. Setelah penembakan di sekolah dasar Sandy Hook di Newtown – Connecticut pada pertengahan Desember 2012 yang menewaskan 26 orang, terjadi kenaikan pembelian senjata api.

Presiden Amerika Barack Obama telah berulangkali menyerukan pengetatan pemeriksaan latar belakang guna memiliki senjata api dan sekaligus pengendalian penjualan senjata api. Hal yang sama ditegaskannya kembali beberapa saat setelah insiden penembakan di California hari Rabu.
[em/th]

XS
SM
MD
LG