Tautan-tautan Akses

AS

Obama Langsungkan Lawatan Terakhir ke Asia


U.S. President Barack Obama faces a joint news conference with Chinese President Xi

U.S. President Barack Obama faces a joint news conference with Chinese President Xi

Dengan waktu kurang dari lima bulan lagi sebagai presiden, Obama akan melawat ke Asia untuk terakhir kalinya setelah selama hampir dua masa jabatannya berusaha meningkatkan kekuatan dan pengaruh Amerika di kawasan itu.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan menghadapi banyak isu mendesak dalam lawatannya yang ke-11sebagai presiden Amerika ke Asia, sementara masa depan kebijakannya di Asia Pasifik yang dikenal sebagai "pivot to Asia" atau penyeimbangan kembali kekuatan dengan meningkatkan kehadiran militer AS di kawasan itu dan kebijakan-kebijakan lainnya masih menghadapi ketidakpastian.

Dengan waktu kurang dari lima bulan lagi sebagai presiden, Obama akan melawat ke sana untuk terakhir kalinya sebagai presiden, setelah selama hampir dua masa jabatannya berusaha meningkatkan kekuatan dan pengaruh Amerika di kawasan itu.

Obama akan bergabung dengan para pemimpin dunia lainnya di KTT kelompok 20 atau G20 di Hangzhou, China, serta KTT ASEAN dan KTT Asia Timur di Vientiane, Laos dari tanggal 2 hingga 8 September.

Menurut Obama, kebijakan mengenai penyeimbangan kembali kekuatan itu penting bagi masa depan keamanan dan kemakmuran Amerika. Para pejabat Gedung Putih mengatakan, sewaktu melawat ke Asia, Obama akan menegaskan kembali keinginannya agar kebijakan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) diratifikasi. Kesepakatan perdagangan yang ditandatangani 12 negara di relung Pasifik itu merupakan fondasi ekonomi bagi kebijakan Pivot to Asia.

Ben Rhodes, wakil penasehat keamanan nasional, mengatakan, tanpa ratifikasi tersebut, AS seperti menyerahkan kawasan itu ke China, yang tidak menetapkan standar tinggi yang sama bagi kesepakatan perdagangan.

Namun kemungkinan Kongres AS akan meratifikasi kesepakatan itu sangat diragukan. Kesepakatan perdagangan seperti itu telah dituding sebagai penyebab hilangnya banyak pekerjaan di Amerika. Apalagi, kedua kandidat presiden partai besar, Donald Trump dan Hillary Clinton, telah sama-sama menentangnya. [ab/as]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG