Tautan-tautan Akses

AS

Obama, Komite-komite di Senat Siap Jelaskan Campur Tangan Rusia dalam Pilpres 2016


Presiden AS Barack Obama bertemu dengan bertemu dengan Para Komandan Pasukan Tempur dan Kepala Staf Gabungan Militer AS di Gedung Putih, Washington, DC, 4 Januari 2017. (REUTERS/Carlos Barria).

Presiden AS Barack Obama bertemu dengan bertemu dengan Para Komandan Pasukan Tempur dan Kepala Staf Gabungan Militer AS di Gedung Putih, Washington, DC, 4 Januari 2017. (REUTERS/Carlos Barria).

Badan Intelijen Pusat (CIA) dan Biro Investigasi Federal (FBI) sama-sama menyimpulkan bahwa pemerintah Rusia berada di balik peretasan tahun 2016, dan sengaja membocorkan dokumen-dokumen itu melalui WikiLeaks untuk mengacaukan pemilu.

Dugaan mengenai campur tangan Rusia dalam pemilu Amerika 2016 akan menjadi pokok bahasan dalam dua sidang dengar keterangan di Senat Amerika, Kamis (5/1). Ini juga menjadi topik briefing untuk Presiden Barack Obama.

Presiden memerintahkan kalangan intelijen untuk meninjau kemungkinan campur tangan asing sejak pemilu 2008 yang pertama kali mengantarkannya ke Gedung Putih. Seorang pejabat Amerika mengukuhkan bahwa Obama akan menyimak hasil penyelidikan itu hari Kamis, dan bahwa presiden terpilih Donald Trump akan menerima briefing yang sama hari Jumat.

Badan Intelijen Pusat (CIA) dan Biro Investigasi Federal (FBI) sama-sama menyimpulkan bahwa pemerintah Rusia berada di balik peretasan tahun 2016, dan sengaja membocorkan dokumen-dokumen itu melalui WikiLeaks untuk mengacaukan pemilu.

Komite Angkatan Bersenjata Senat dijadwalkan mendengar kesaksian dari Direktur Intelijen Nasional James Clapper, Direktur Dinas Keamanan Laksamana Michael Rogers, dan Wakil Menteri Pertahanan urusan Intelijen Marcel Lettre.

Ketua Komite, Senator John McCain hari Rabu menyebut campur tangan Rusia itu sebagai “tindakan perang.”

Sementara itu sidang tertutup di Komite Hubungan Luar Negeri Senat akan mengetengahkan pejabat cybersecurity dari Departemen Keamanan Dalam Negeri Danny Toler serta pejabat-pejabat Departemen Luar Negeri, Victoria Nuland dan Gentry Smith.

Obama merespons Rusia pekan lalu dengan menetapkan seperangkat sanksi yang menarget dinas-dinas spionase utama negara itu dan mengusir 35 “petugas intelijen.”

Reuters Rabu melaporkan bahwa menurut beberapa pejabat Amerika, pemerintahan Obama menerima informasi intelijen setelah pemilu 8 November yang dianggap sebagai bukti kuat Rusia memberi informasi dari hasil peretasan terhadap Komite Nasional Partai Demokrat kepada WikiLeaks melalui pihak ke-tiga. Para pejabat menyatakan hal tersebut turut berperan dalam pengambilan tindakan presiden terhadap Rusia.

Trump telah berulangkali menyatakan ragu bahwa Rusia turut campur dalam pemilu. Dalam serangkaian cuitan mulai Selasa malam, Trump mencela CIA, FBI dan dinas-dinas lain, dengan mengatakan mereka masih belum memiliki bukti bahwa Rusia meretas komputer partai Demokrat dan memberikan dokumen itu ke WikiLeaks. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG