Tautan-tautan Akses

AS

Obama Didesak Cabut Program Registrasi Imigran dari Negara Muslim


Presiden AS Barack Obama (kanan) saat menerima Presiden terpilih Donald Trump di Gedung Putih, 10 November lalu (foto: dok).

Presiden AS Barack Obama (kanan) saat menerima Presiden terpilih Donald Trump di Gedung Putih, 10 November lalu (foto: dok).

Permintaan yang diajukan oleh kelompok advokasi AS itu untuk mencegah pemerintahan Trump mendatang menghidupkan kembali program NSEERS yang diluncurkan pada era pemerintahan Presiden Bush di tahun 2002.

Sebanyak 198 kelompok advokasi hak sipil baik lokal maupun nasional di seluruh Amerika meminta Presiden AS Barack Obama mencabut program yang tadinya dipergunakan untuk mendaftar imigran dari sejumlah negara yang mayoritas penduduknya Muslim.

Permintaan itu untuk mencegah pemerintahan Trump mendatang menghidupkan program itu kembali.

Lewat surat kepada Obama dan dimuat online hari Selasa (22/11), ke-198 kelompok meminta presiden segera mencabut National Security Entry-Exit Registration System, atau disingkat NSEERS.

Kelompok itu menulis dalam sebuah pernyataan, bahwa: "NSEERS adalah kebijakan diskriminatif dan bertentangan dengan nilai-nilai dasar bangsa Amerika tentang keadilan dan perlindungan yang sama. Tidak efektif sebagai alat kontra terorisme, menyebabkan kerugian luarbiasa pada individu yang langsung terkena dan mengganggu hubungan dengan masyarakat imigran."

Program itu dikeluarkan tahun 2002, pasca serangan teroris 11 September 2001, namun ditangguhkan selama masa jabatan pertama Obama. Presiden terpilih Trump bersama beberapa penasihatnya secara terbuka mengemukakan minat mereka untuk melakukan registrasi dan pengintaian terhadap Muslim, serta menghidupkan kembali program NSEERS itu.

Salah satu organisasi hak sipil AS, American Civil Liberties Union (ACLU) yang menganjurkan program itu dihentikan mengatakan, sejauh ini tidak ada hukuman terkait terorisme yang dijatuhkan terhadap lebih dari 90 ribu nama dalam database. Yang didaftar termasuk pengunjung asing dari negara-negara tertentu di mana diduga ada ancaman teroris. Umumnya mahasiswa, mereka diwajibkan mendaftar dan melapor secara berkala.

Bulan Desember tahun lalu Trump menyerukan ‘larangan sepenuhnya bagi Muslim masuk ke Amerika, sampai Amerika mengetahui apa yang terjadi’.

Trump secara keliru menyebut studi oleh Pew Research Center untuk mendukung klaimnya bahwa bagian besar dari ratusan juta Muslim di dunia sangat membenci Amerika. Namun, Pew Research Center membantah bahwa mereka tidak pernah melakukan studi demikian. [ps/al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG