Tautan-tautan Akses

Obama Desak 'Ruang Politik Terbuka' di Ethiopia


Presiden AS Barack Obama (kiri) dan PM Ethiopia Hailemariam Desalegn memberikan konferensi pers bersama di Addis Ababa, Senin (27/7).

Presiden AS Barack Obama (kiri) dan PM Ethiopia Hailemariam Desalegn memberikan konferensi pers bersama di Addis Ababa, Senin (27/7).

Presiden AS Barack Obama mendesak pemerintah Ethiopia mengizinkan wartawan dan pihak-pihak oposisi untuk melakukan kegiatan yang lebih bebas.

Presiden AS Barack Obama mengunjungi markas besar Uni Afrika di Addis Ababa, Selasa (28/7), setelah menghabiskan satu hari membicarakan Ethiopia dan Sudan Selatan.

Obama bertemu dengan Perdana Menteri Ethiopia Hallemariam Desalegn di ibukota Ethiopia itu Senin, dengan mengatakan kedua negara mereka adalah mitra yang kuat dalam penanganan banyak masalah.

Dalam konferensi pers bersama Desalegn, Obama memuji pencapaian ekonomi Ethiopia dengan mengatakan bahwa negara itu telah mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan dan bahwa Ethiopia berperan penting dalam memerangi kelompok militan al-Shabab.

Namun, ia mendesak pemerintah Ethiopia agar mengizinkan wartawan dan partai-partai oposisi beroperasi dengan bebas. Dalam jumpa pers Senin, Obama mengatakan ia mengadakan pembicaraan terang-terangan dengan perdana menteri, dan mengatakan bahwa kebebasan bagi wartawan dan suara-suara oposisi “akan memperkuat bukannya menghambat” program partai yang berkuasa.

Hallemarian mengatakan Ethiopia bertekad untuk meningkatkan hak asasi manusia dan praktik pemerintahan yang baik. “Janji kami untuk demokrasi adalah sungguh-sungguh, bukan sekedar melaksanakan,” katanya.

Obama juga membicarakan perang saudara di Sudan Selatan Senin, bertemu dengan para pemimpin Kenya, Uganda, Ethiopia dan Uni Afrika untuk membicarakan krisis tersebut.

Sebelum pergi ke pertemuan itu, ia mengatakan keadaan di Sudan Selatan semakin jauh lebih buruk.” Ia menambahkan bahwa presiden Sudan Selatan dan para pemimpin oposisi keras kepala dan hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri bukan kepentingan negara mereka.

Seorang pejabat Amerika mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan itu bahwa para pemimpin itu membicarakan pilihan ganjaran terhadap Sudan Selatan kalau batas-waktu 17 Augustus untuk persetujuan perdamaian tidak dicapai, termasuk pengenaan sanksi dan penempatan pasukan intervensi kawasan. (my/lt)

XS
SM
MD
LG