Tautan-tautan Akses

AS

Obama akan Cabut Semua Sanksi terhadap Myanmar


Obama Suu Kyi

Obama Suu Kyi

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyambut pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi di Gedung Putih dan menyampaikan beberapa kabar baik untuknya dan negaranya yang mengalami masalah ekonomi setelah terisolasi selama beberapa dekade.

Kedua pemimpin mengakui masih banyak lagi pekerjaan yang harus diselesaikan dalam hal reformasi demokrasi dan hak asasi manusia di Myanmar, namun negara itu telah banyak berubah sejak Obama mengunjungi Aung San Suu Kyi dalam tahanan rumah beberapa tahun yang lalu.

Pertemuan kedua pemimpin itu kali ini dalam keadaan yang sangat berbeda. "Jika Anda meramalkan lima tahun yang lalu Aung San Suu Kyi sekarang akan berada di sini, duduk sebagai wakil yang terpilih dari negaranya, banyak orang akan skeptis. Tapi itu adalah berita baik pada era di mana begitu sering kita melihat negara-negara bergerak ke arah yang berlawanan," kata Presiden Obama.

Setelah pertemuan Rabu di Gedung Putih, Presiden Obama melontarkan pengumuman penting.

"Amerika Serikat sekarang siap untuk mencabut sanksi yang telah dikenakan terhadap Burma sekian lama. Ini adalah hal yang benar untuk dilakukan guna memastikan rakyat Burma merasakan manfaat melakukan bisnis dengan cara baru."

Aung San Suu Kyi mengucapkan terima kasih kepada Presiden Obama dan Kongres Amerika karena memberlakukan sanksi terhadap militer Burma demi mendorong demokrasi, tetapi dia mengatakan sudah tiba waktunya mencabut sanksi-sanksi itu.

"Tapi persatuan juga perlu kemakmuran, karena rakyat, jika mereka harus berebut sumber daya yang terbatas, lupa bahwa berdiri bersama itu penting," kata Aung San Suu Kyi.

Kedua pemimpin mendorong orang Amerika untuk melakukan perjalanan dan berinvestasi di Myanmar karena negara itu indah dengan warisan budaya yang kaya.

Tetapi beberapa pemimpin hak asasi manusia telah memperingatkan untuk tidak mencabut sanksi sepenuhnya, dengan merujuk pada catatan hak asasi manusia Myanmar yang masih tercemar dan ketidakpedulian terhadap nasib etnis Rohingya di negara itu. Etnis Rohingya dianggap sebagai kelompok minoritas yang teraniaya di dunia.

Aung San Suu Kyi membahas konflik etnis itu, dan mengatakan dia ingin semua orang yang menjadi warga negara diberi hak sepenuhnya sebagai warga negara. [as/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG