Tautan-tautan Akses

Nyamuk Makin Kebal terhadap Obat Anti-Nyamuk

  • Budi Setiawan

Semprotan nyamuk yang mengandung DEET, ternyata tidak menjamin Anda kebal dari gigitan nyamuk.

Semprotan nyamuk yang mengandung DEET, ternyata tidak menjamin Anda kebal dari gigitan nyamuk.

Nyamuk merupakan momok di seluruh dunia, karena menyebarkan malaria dan demam berdarah, dua jenis penyakit yang mematikan. Meskipun tersedia semprotan anti serangga, insektisida, dan kelambu, serangga-serangga kecil ini sulit untuk dihindari. Sebuah penelitian baru menunjukkan nyamuk-nyamuk itu sebenarnya memiliki kemampuan yang membantu mereka melewati pertahanan manusia.

Cara yang paling lazim bagi banyak orang untuk menghindari gatal akibat gigitan nyamuk adalah dengan semprotan anti-nyamuk. Semprotan ini biasanya mengandung senyawa yang disebut DEET, yang mengusir nyamuk.

Tetapi langkah ini ternyata tidak menjamin pemakainya terhindar dari gigitan nyamuk.

Linda Field, seorang ahli biologi molekular mengatakan ia berhasil membuktikan bahwa nyamuk yang mengabaikan DEET, memiliki perubahan dalam cara deteksi DEET lewat antenanya. "Yang kita ketahui," ujar Field, "adalah sel-sel pada antena, yang biasanya mendeteksi DEET, tidak berfungsi.”

Field menambahkan studinya menunjukkan kemampuan nyamuk untuk mengabaikan sinyal agar menjauhi DEET, adalah kemampuan berdasarkan genetika.
Nyamuk jenis Anopheles pembawa malaria bisa diketahui lewat posisi tubuhnya ketika menggigit. Obat nyamuk diketahui makin tidak manjur menghindari gigitan serangga ini.

Nyamuk jenis Anopheles pembawa malaria bisa diketahui lewat posisi tubuhnya ketika menggigit. Obat nyamuk diketahui makin tidak manjur menghindari gigitan serangga ini.

Ia menambahkan bahwa hal tersebut adalah sifat yang dominan. Dengan kata lain, jika salah satu orang tua nyamuk mampu melawan DEET, kemungkinan keturunan mereka juga. Ini berarti resistensi terhadap DEET bisa meluas dengan sangat cepat.

Field dan tim penelitinya menunjukkan hal itu melalui serangkaian percobaan.

Pertama-tama mereka mengidentifikasi nyamuk yang secara alami tidak peka terhadap DEET. Dengan menggunakan elektroda-elektroda kecil, mereka menguji setiap sensor pada antena nyamuk-nyamuk itu. Mereka bisa melihat sensor mana pada nyamuk normal yang bisa menanggapi DEET, dan kemudian menunjukkan bahwa sensor yang sama pada nyamuk tidak peka tidak menanggapi DEET sama sekali.

Langkah berikutnya adalah mengembang-biakkan nyamuk tidak peka itu untuk melihat seberapa sering sifat ini diwariskan.

“Dalam eksperimen-eksperimen kami, pewarisan itu terjadi dengan sangat cepat. Kami mulai dengan hanya sekitar 10 persen dari populasi nyamuk eksperimen. Dalam dua generasi kami melihat 60 persen dari populasi nyamuk yang tidak peka," jelas Field.

Field menambahkan ini memiliki implikasi penting bagi pengendalian nyamuk secara global.

Di negara berkembang, sebagian besar kampanye anti-nyamuk lebih mengandalkan kelambu yang dicelup insektisida, atau penyemprotan insektisida daripada menangkalnya. Tapi, Field mengatakan penangkalan akan menjadi lebih umum.

Nyamuk-nyamuk yang diuji Field membawa virus dengue, yang menyebabkan penyakit demam berdarah dan membuat spesies nyamuk lainnya menyebarkan malaria.

Field mengatakan penelitian yang akan datang akan melihat resistensi nyamuk Aedes Aegypti terhadap DEET, untuk melihat apakah mereka juga membawa gen resistensi.

XS
SM
MD
LG