Tautan-tautan Akses

Non-Muslim Belajar Puasa lewat 'Fast-a-thon'

  • Leonard Triyono

Para mahasiswa Muslim di kampus University of Illionis di Chicago ini akan mengajak para rekan non-Muslim untuk merasakan berpuasa di bulan Ramadan dalam program Fast-a-thon.

Para mahasiswa Muslim di kampus University of Illionis di Chicago ini akan mengajak para rekan non-Muslim untuk merasakan berpuasa di bulan Ramadan dalam program Fast-a-thon.

Sebuah program Ramadan di University of Illinois di Chicago mengajak civitas akademia ramai-ramai berpuasa, baik Muslim maupun non-Muslim.

Tak kurang dari ribuan mahasiswa Muslim Indonesia sedang menuntut ilmu di berbagai universitas di Amerika. Selama bulan Ramadan, umumnya para mahasiswa Muslim Indonesia ini tetap gigih melakukan ibadah puasa. Salah satunya adalah Afnan, seorang mahasiswa dari Banda Aceh yang sedang menempuh program doktorat atau S3 di University of Illinois at Chicago (UIC). Menurut Afnan, walaupun ia akan aktif dan sibuk dalam berbagai kegiatan kampus, ia tetap menjalankan ibadah puasa sebagaimana layaknya umat Islam di seluruh dunia.

Selama bulan Ramadan, Afnan juga akan mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh perhimpunan mahasiswa Islam atau Muslim Students Association (MSA) di universitas itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah satu kegiatan MSA di UIC adalah "Fast-a-thon." Program ini menganjurkan ibadah puasa bagi semua mahasiswa Muslim di kampus UIC, dan menghimbau setiap mahasiswa Muslim agar mengajak orang-orang non-Muslim di sekitar mereka untuk ikut berpuasa.

“Setiap tahun, MSA di UIC mengadakan ‘Fas-a-thon’, tujuannya yaitu untuk mengajak orang ramai-ramai berpuasa, bukan cuma yang Muslim tapi juga yang non-Muslim dan kita dianjurkan untuk mengajak orang terdekat kita di lingkungan akademis,” kata Afnan menjelaskan isi program tersebut.

Berpuasa di negeri orang, tidak membuat semangat beribadah luntur.

Berpuasa di negeri orang, tidak membuat semangat beribadah luntur.

Upaya memperkenalkan ibadah puasa kepada orang-orang di sekitar para mahasiswa Muslim itu, serta mengajak mereka ikut ambil bagian dalam ibadah menuai reaksi yang beragam.

“Tidak semuanya memang bisa. Tapi ada yang bisa, dan mereka biasanya yang sudah cukup dewasa. Jadi, biasanya dosen-dosen yang sudah ibu-ibu, bapak-bapak, itu mengikuti memang dari awal mereka tidak makan. Mereka betul-betul berpuasa dari pagi,” ujar Afnan.

Puasa bagi orang-orang non-Muslim yang berhasil diajak oleh para mahasiswa Muslim ini menjadi tantangan, perjuangan, dan pengalaman tersendiri.

Namun, berdasarkan pengalaman pada bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya, ada juga warga non-Muslim yang berhasil mengikuti puasa penuh sepanjang hari. Para warga non-Muslim yang ikut berpuasa ini, kemudian diundang ikut berbuka puasa bersama yang disponsori oleh MSA setempat.

“Saat berbuka, kita makan kurma dulu dan kemudian setelah itu minum air secukupnya, kemudian sholat Maghrib berjamaah, dan setelah itu baru makan malam yang lengkap,” kata Afnan. Mirip dengan kebiasaan di tanah air.

Banyak mahasiswa Indonesia tetap bersemangat menyambut bulan Ramadan dan akan menjalankan ibadah sambil tetap sibuk dengan berbagai kegiatan rutin di kampus. Walaupun tinggal di Amerika membuat gaung puasa tidak terlalu terasa, ditambah dengan hari-hari yang lebih panjang dan panas tahun ini, ternyata tidak membuat semangat mahasiswa Muslim Indonesia di rantau ini ciut di bulan puasa.

XS
SM
MD
LG