Tautan-tautan Akses

Pasca Serangan Nice, Muslim Perancis Merasa Takut dan Terasing


Sebuah kertas yang ditempel di Promenade des Anglais, Nice, bertuliskan: "Saya Muslim dan kamu (pembunuh) tidak mewakili saya." (16/7). (VOA/L. Ramirez)

Sebuah kertas yang ditempel di Promenade des Anglais, Nice, bertuliskan: "Saya Muslim dan kamu (pembunuh) tidak mewakili saya." (16/7). (VOA/L. Ramirez)

Di tengah meningkatnya perasaan terasing di antara banyak Muslim di Perancis, komunitas Muslim merasa dipersalahkan "setiap sesuatu terjadi di Perancis, di Eropa."

Di daerah kumuh Ariane di pinggiran kota Nice, Perancis, banyak warga Muslim yang merasa komunitasnya dipersalahkan dengan tidak adil atas sernagan pada Hari Bastille yang menewaskan 84 orang. Mereka juga takut diskriminasi dan perpecahan sosial akan semakin meningkat pasca serangan tersebut.

Kelompok Negara Islam mengklaim serangan itu dan menyebut Mohamed Lahouaiej Bouhlel, yang kelahiran Tunisia dan menabrakkan truknya kepada kerumunan massa di kota tepi pantai itu Kamis lalu, sebagai salah satu pejuang mereka.

Perdana Menteri Manuel Valls mengatakan akhir pekan lalu bahwa penyerang yang berusia 31 tahun telah "teradikalisasi dengan cepat." Jaksa penuntut Paris mengatakan hari Senin (19/7) bahwa meski tidak ada bukti si penyerang memiliki kaitan langsung dengan ISIS, ia baru-baru ini memiliki ketertarikan terhadap Islam radikal.

Di Ariane, distrik dengan populasi Muslim yang besar dan terletak beberapa kilometer dari daerah Abbatoirs tempat Bouhlel tinggal, imam masjid al-Fourkane di daerah it mengatakan kelompok-kelompok radikal memangsa mereka yang lemah dan ia memperingatkan untuk tidak memusatkan perhatian pada agama sang pembunuh.

"Karena ada eksploitasi kaum lemah, tidak berarti kita harus bersikap keras terhadap agama mereka. Malah sebaliknya. Kita harus bersatu dan membela negara," ujar Boubekeur Bekri, menambahkan bahwa "kejahatan adalah kejahatan" apa pun agamanya.

Bouhlel meninggalkan Tunisia tahun 2005. Keluarganya menggambarkan pria itu menderita "masalah kejiwaan" dan rentan terhadap depresi dan ledakan kekerasan. Ia beberapa kali melanggar hukum, termasuk dakwaan bulan Maret tahun ini karena melemparkan papan kayu dalam insiden lalu lintas.

Kerabat dan kawan Bouhlel juga menggambarkannya sebagai peminum, setidaknya sampai baru-baru ini, suka merokok ganja dan menggoda perempuan, perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Perpustakaan Islamis Arab-Perancis di Nice, yang memiliki populasi Muslim terbesar di Perancis, yaitu sekitar 40 persen, dibandingkan 8 persen di seluruh negeri (16/7). (VOA/H.Murdock)

Perpustakaan Islamis Arab-Perancis di Nice, yang memiliki populasi Muslim terbesar di Perancis, yaitu sekitar 40 persen, dibandingkan 8 persen di seluruh negeri (16/7). (VOA/H.Murdock)

Elabed Lofti, imam di Antibes and Juan-Les-Pins, termasuk salah satu pemimpin Muslim di Perancis bagian tenggara yang telah menjaga jarak dari penyerang itu.

"Orang itu tidak berpuasa pada bulan Ramadan, yang merupakan syarat minimum untuk disebut Muslim yang baik," ujarnya.

Perancis memiliki populasi minoritas Muslim terbesar di Eropa. Di tengah meningkatnya perasaan terasing di antara banyak Muslim di Ariane dan tempat-tempat lain, Younis, tukang pemasang atap yang lahir dari orangtua imigran Maroko, mengatakan seluruh komunitas Muslim dipersalahkan "setiap sesuatu terjadi di Perancis, di Eropa."

"Dulu masalahnya diskriminasi ras, sekarang diskriminasi agama," ujar Younis, yang keberatan disebut nama belakangnya.

Perekrutan

Selama berpuluh tahun, Nice, yang dikenal dengan yacht-yacht besar yang berlabuh di air laut berwarna biru kobalt serta jalanan berhias pohon palem, telah menjadi pintu masuk gelombang imigran dari bekas-bekas koloni Perancis, seperti Tunisia, Maroko dan Aljazair.

Daerah ini juga telah menghasilkan kontingen terbesar dari militan Perancis yang berjihad di Suriah, dengan sekitar satu dari 10 orang berasal dari kota Mediterania itu.

ISIS telah kehilangan sebagian besar wilayahnya di Irak dan Suriah tahun ini dan beberapa pejabat khawatir hal itu akan membuat para pengikut didorong melakukan serangan besar.

Apakah Bouhlel terkait langsung atau tidak dengan ISIS, profilnya sesuai dengan penemuan studi lembaga Europol baru-baru ini mengenai perekrutan militan asing.

Studi itu menunjukkan bahwa sekitar empat dari lima orang yang direkrut ISIS memiliki catatan kriminal, sementara sekitar 20 persen didiagnosa memiliki masalah kesehatan mental.

Psikolog Brigitte Juy memberi konseling pada anak-anak muda Muslim yang merasa termarjinalkan serta marah pada masyarakat Perancis dan mungkin rentan terhadap perekrutan militan, dan yang lainnya yang telah terpapar ideologi Islam garis keras, termasuk mereka yang telah kembali dari Suriah.

Juy mengatakan gambaran karakter Bouhlel dari para kerabat dan tetangga yang dilaporkan media sepertinya memperlihatkan karakter yang tidak stabil, yang merasa terisolasi dan mudah meledak marah. Dalam hal ini, ujarnya, Bouhlel bukan kasus yang unik.

"Ini profil yang kita lihat di luar sana. Dan kemudian pada momen tertentu bertabrakan dengan faktor-faktor berbeda, termasuk barangkali masalah pribadi, yang mungkin memicu titik api dan ada alasan untuk mencari 'obat' dengan membalas dendam... dengan melakukan kejahatan." [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG