Tautan-tautan Akses

NATO Petik Pelajaran Penting dalam Misinya di Libya

  • Al Pessin

Salah satu pesawat tempur NATO yang digunakan untuk misi udara di Libya.

Salah satu pesawat tempur NATO yang digunakan untuk misi udara di Libya.

Misi yang hampir usai di Libya ini telah menghadirkan berbagai tantangan yang signifikan bagi NATO dari segi militer dan politik.

Para pejabat NATO mengatakan hampir mengakhiri pemboman yang telah berlangsung selama kurang lebih tujuh bulan di Libya, yang dirancang untuk mencegah pasukan pro-Gaddafi menyerang warga sipil. Operasi NATO ini memungkinkan para pejuang Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) untuk mengambil alih kontrol dari Gaddafi, tetapi yang terungkap juga dari operasi ini adalah beberapa tantangan dari segi militer dan politik yang signifikan bagi NATO.

NATO menerbangkan 26.000 pesawatnya dalam misi ini di Libya, termasuk di antaranya, 9.600 pesawat pengebom. Kapal-kapal NATO mengevakuasi warga sipil sekaligus memblokade pasokan peralatan militer bagi pasukan pro-Gaddafi.

Operasi tersebut menemui berbagai masalah, tetapi secara keseluruhan misi ini merupakan sebuah upaya efektif yang disusun dalam waktu relatif singkat. Komandan militer NATO bagi misi ini, Laksamana Angkatan Laut AS James Stavridis, mengaku puas.

"Saya akan mengatakan pelajaran pertama dari Libya adalah bahwa NATO dapat berfungsi, bahwa kita dapat dengan cepat dengan sigap dan nyata mengumpulkan kekuatan strategis dan menggunakannya untuk mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB," kata Stavridis.

Tapi, Stavridis juga mengakui bahwa operasi Libya mengungkapkan beberapa kekurangan.

"Salah satunya, adalah kurangnya kemampuan untuk memadukan intelijen, pengawasan, pengintaian untuk menghasilkan penargetan yang koheren dengan presisi, yang tidak menyebabkan kerusakan kolateral. Saya pikir kami bisa berbuat lebih baik," tambah Stavridis.

Misi di Libya juga mengungkapkan berbagai kesenjangan politik dalam aliansi NATO. Walaupun semua 28 negara anggota mendukung operasi, hanya delapan yang berpartisipasi.

Dan untuk Nick Witney, mantan Kepala Badan Pertahanan Uni Eropa, ini tidak seharusnya terjadi.

"Beberapa dari sekutu sebenarnya siap untuk berpartisipasi, setidaknya dalam fase pembukaan, penyelamatan Benghazi. Itu merupakan salah satu keputusan politik sederhana yang dapat diambil tentang apakah negara bersangkutan akan bergabung dalam misi intervensi ini atau tidak," kata Witney.

Rekan Witney di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa, mantan pejabat pertahanan, Daniel Korski, mengatakan hal tersebut menimbulkan pertanyaan yang sangat mendasar tentang masa depan aliansi NATO.

"Apakah sebetulnya NATO? Apakah (NATO) sebuah aliansi di mana kita semua berjuang bersama-sama melawan ancaman global? Ataukah sebuah aliansi di mana mini-koalisi dalam aliansi ini mampu melakukan apapun yang mereka inginkan sementara yang lain menonton?" tanya Korski.

Tapi sementara Laksamana Stavridis berkeinginan untuk aliansi untuk menutup kesenjangan kekuatan militer, ia tidak terlalu khawatir mengenai kekompakan politik NATO.

"Saya tidak berpikir ada ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh misi di Libya, karena pada kenyataannya, aliansi melangkah maju dan melaksanakan misi ini. Saya pikir ini contoh yang baik bahwa aliansi bersedia melakukan misi yang tidak eksistensial," kata Stavridis . "Saya pikir NATO memiliki peran untuk bermain di dunia, jenis peran yang baik, dan saya pikir kami akan terus melakukan itu."

Stavridis tetap optimis akan masa depan NATO, meskipun krisis ekonomi Eropa membuat pengeluaran pertahanan negara-negara terkait berkurang, dan semakin banyak negara enggan mendukung operasi militer asing setelah bertahun-tahun konflik di Irak, Afghanistan dan sekarang di Libya.

XS
SM
MD
LG