Tautan-tautan Akses

NATO Perkuat Pertahanan Udara Turki

  • Dorian Jones

PM Turki Ahmet Davutoglu berbicara pada konferensi pers di markas NATO, di Brussels, Belgia (30/11). Turki telah meminta dukungan mitra-mitranya dalam NATO sejak bersengketa dengan Rusia.

PM Turki Ahmet Davutoglu berbicara pada konferensi pers di markas NATO, di Brussels, Belgia (30/11). Turki telah meminta dukungan mitra-mitranya dalam NATO sejak bersengketa dengan Rusia.

NATO memperkuat pertahanan udara Turki setelah jet tempur Turki menembak jatuh pesawat tempur Rusia bulan lalu.

Pengumuman itu disampaikan sementara Rusia dan Turki terus meningkatkan kehadiran militer mereka di perbatasan Turki-Suriah, memicu kekhawatiran akan timbulnya konfrontasi baru.

Keputusan NATO kemungkinan akan dinilai sebagai kemenangan diplomatik bagi Turki. Sejak jet Turki menembak jatuh pesawat pembom Rusia, yang diduga melanggar wilayah udaranya di perbatasan dengan Suriah, Turki telah meminta dukungan mitra-mitranya dalam NATO.

Keputusan itu bertepatan dengan peningkatan kehadiran militer Rusia di Suriah, yang menurut ilmuwan politik Cengiz Aktar dari Suleyman Sah University di Istanbul, kini menjadi ancaman serius bagi pasukan Turki.

"Mereka mengirim kapal Moscova dengan rudal anti-pesawat S400 dan mereka mungkin membalas. Turki tidak memiliki sarana dan kekuatan militer untuk melawan tindakan Rusia di kawasan itu tanpa bantuan Amerika dan negara-negara lain," ujar Aktar.

Rudal-rudal S400 mampu menjangkau wilayah udara Turki. Menurut analis, NATO diperkirakan akan mengirim kapal-kapal ke bagian timur Laut Tengah, selain menambah jet-jet tempur di pangkalan udara Incirlik di Turki, dekat perbatasan dengan Suriah. Turki meningkatkan patroli jet-jet tempurnya di perbatasan dengan Suriah.

Sinan Ulgen, pada Carnegie Institute di Brussels, mengatakan dukungan NATO kemungkinan akan mempertegas sikap Turki terhadap Moskow.

"Turki merasa berhak atas apa yang telah dilakukan. Tidak akan ada permintaan maaf dan negara itu berharap mitra-mitranya di Barat mendukung sikap ini. Jika terjadi pelanggaran lagi, kita sayangnya bisa menduga ini akan berulang," tutur Ulgen.

Walau NATO mengklaim rencana pengerahan militer ke Turki bukan untuk melawan pasukan Rusia, pengamat-pengamat memperingatkan, itu kemungkinan akan semakin menghambat upaya membujuk Rusia berkoordinasi dalam memerangi ISIS.

Bahkan dengan perkembangan terbaru itu, menurut pengamat, sinyal pertama yang mungkin meredakan ketegangan adalah pengumuman bahwa Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov setuju untuk bertemu Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pekan ini di sela-sela konferensi OSCE di Beograd, ibukota Serbia. [ka/th]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG