Tautan-tautan Akses

Nasib 2 ABK Indonesia Yang Diculik di Perairan Sabah Belum Diketahui

  • Fathiyah Wardah

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir. (Foto: Fathiyah Wardah/VOA)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir. (Foto: Fathiyah Wardah/VOA)

Pemerintah Indonesia belum mengetahui keberadaan dua warga Indonesia yang diculik oleh kelompok bersenjata Filipina, Abu Sayyaf, pada 19 November 2016 lalu.

Pemerintah Indonesia masih terus mengupayakan pembebasan warga negara Indonesia yang diculik oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan.

Tiga penculikan terakhir terjadi di perairan Sabah, Malaysia. Pada 3 Agustus lalu, seorang kapten asal Indonesia ditangkap, kemudian pada 5 November dua nahkoda dari Indonesia juga diculik, dan terakhir dua anak buah kapal ikan asal Indonesia disandera.

Kepada wartawan di kantornya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan penculikan terakhir menimpa dua dari 13 warga Indonesia yang menjadi awak kapal ikan Malaysia pada 19 November lalu. Malamnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memerintahkan konsul Indonesia di Tawau untuk mencari informasi lebih lanjut.

Arrmanatha mengakui hingga kini pihaknya belum mengetahui informasi soal keberadaan warga Indonesia yangdiculik itu dan mengenai nasib mereka.

"Biasanya kalau yang diambil di perairan Sabah itu tiga empat hari baru terjalin komunikasi antara penculik atau penyandera kepada keluarga atau pemilik kapal. Upaya pembebasan terus dilakukan," kata Arrmanatha.

Arrmanatha mengatakan pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan konsul di Tawau telah mendesak pemerintah Malaysia untuk meningkatkan keamanan di sekitar perairan Sabah.

"Beberapa waktu lalu Ibu Menteri (Retno Marsudi) ke Malaysia dan sengaja untuk menakankan kepada pemerintah Malaysia agar meningkatkan keamanan di perairan Sabah. Karena penculikan tiga terakhir terjadi di sana ddan merupakan tanggung jawab pemerintah Malaysia untuk menjaga keamanan di perairannya sendiri," lanjutnya.

Arrmanatha menambahkan upaya pembebasan sandera terus dilaksanakan dan Menlu Retno Marsudi terus melakukan komunikasi intensif dengan koleganya, menteri luar negeri dari Malaysia dan Filipina. Di tingkat teknis, menurut Arrmanatha, pemerintah terus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak di Filipina Selatan untuk mengetahui pergerakan sandera dan untuk menekan mereka agar terjadi perundingan hingga sandera bisa dibebaskan.

Arrmanatha menegaskan upaya pembebasan para sandera tetap berfokus pada keselamatan mereka, sehingga pemerintah tidak akan gegabah mengambil langkah-lanngkah yang bisa mengancam nyawa para sandera.

Sebelumnya Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo menilai Abu Sayyaf sengaja menyasar warga negara Indonesia untuk dijadikan sandera.

"Mungkin kita terlalu persuasif, bisa jadi seperti itu. Mungkin alasan ekonomi atau alasan politik lainnya, harus kita analisa dengan benar. Tapi yang jelas ini tanggung jawab Malaysia karena kapalnya berbendera Malaysia, beroperasi di wilayah Malaysia, dan tenaga kerja kita dengan membawa paspor legal di sana," kata Jenderal Gatot Nurmantyo.

Penyanderaan pelaut Indonesia terus terjadi di perairan negara tetangga. Tahun ini, kelompok bersenjata Abu Sayyaf yang beroperasi di Filipina Selatan tersebut, telah beberapa kali menculik dan menyandera sejumlah warga Indonesia yang menjadi awak kapal yang melintas di perairan Sulu, Filipina Selatan. Area penyanderaan bergeser ke perairan Kinabatangan di Sabah, Malaysia. [fw/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG