Tautan-tautan Akses

NASA Perkirakan Ada 0,5 Juta Sampah Antariksa


NASA mengatakan, terdapat setengah juta sampah antariksa, dengan, 20 ribu di antaranya lebih besar daripada buah apel (foto: ilustrasi).

NASA mengatakan, terdapat setengah juta sampah antariksa, dengan, 20 ribu di antaranya lebih besar daripada buah apel (foto: ilustrasi).

Meningkatnya sampah antariksa yang mengelilingi planet kita, mengancam satelit-satelit yang masih berfungsi dan juga manusia yang terbang ke antariksa.

Apapun yang kita luncurkan ke orbit mengelilingi bumi, akhirnya menjadi sampah antariksa. Para ilmuwan mengatakan, meningkatnya jumlah benda-benda tak berguna yang mengelilingi planet kita, mengancam bsatelit-satelit yang masih berfungsi dan juga manusia yang terbang ke antariksa.

Sebagaimana ditunjukkan secara jelas dalam film “Gravity” yang memenangkan piala Oscar, sampah-sampah antariksa dapat mematikan.

Badan Antariksa Amerika, NASA mengatakan, terdapat setengah juta sampah antariksa, dengan, 20 ribu di antaranya lebih besar daripada buah apel.

Sebagian sampah antariksa itu meluncur dengan kecepatan sekitar 7 kilometer per detik, atau lebih dari 25 ribu kilometer per jam.

Dalam kecepatan itu, bahkan logam sekecil buah ceri impaknya akan sangat besar, kata Wakil Kepala Kantor ESA Space Debris, Holger Krag.

“Pada kecepatan itu, kedua obyek yang bertubrukan akan hancur, dan itu akan buruk bagi kedua obyek itu, dan juga bagi lingkungan, karena akan ada lebih banyak pecahan-pecahan yang dapat menimbulkan tabrakan-tabrakan lagi pada masa depan," ujar Krag.

Para ilmuwan memantau jalur terbang sampah-sampah antariksa dan kadang-kadang menggeser posisi satelit atau bahkan Stasiun Antariksa International untuk menghindari tubrukan.

Tetapi, Holger Krag dari ESA mengatakan, melacak jejak sampah-sampah yang mengorbit bumi itu memerlukan sensor yang sangta kuat.

“Komando Strategis Antariksa Amerika Serikat memiliki sensor-sensor itu, peninggalan dari Perang Dingin untuk mendeteksi misil-misil yang datang. Dan itu merupakan suatu jaringan global stasiun radar dan teleskop global di bumi yang terus-menerus mengawasi antariksa setiap waktu,” tambah Krag.

Hilangnya komunikasi, GPS atau satelit ilmiah, dapat menimbulkan dampak yang dahsyat, maka ilmuwan mempelajari pilihan-pilihan untuk menyingkirkan sampah-sampah antariksa yang berbahaya itu.

“Itu berarti merencanakan suatu misi ke antariksa, mendekati, bertemu dan menangkap obyek itu, menambatkannya, lalu melakukan gerakan orbit terkendali. Ini akan memerlukan teknologi yang sangat rumit,” jelasnya.

Beberapa desain sedang dipertimbangkan, seperti sebuah satelit yang menembakkan partikel-partikel listrik yang memperlambat laju sampah antariksa, dan membuatnya jatuh ke atmosfir dan terbakar.

Obyek-obyek yang lebih kecil dapat ditembak jatuh dengan laser dari bumi, sedangkan obyek besar yang bisa pecah menjadi ribuan serpihan kecil, dapat dibawa turun dengan satelit robot khusus.

Meskipun misi-misi semacam itu bisa menelan biaya sampai 200 juta dolar, Krag mengatakan, mereka seharusnya memulai program itu sesegera mungkin, guna mencegah terjadinya tubrukan yang lebih besar, yang bisa mengakibatkan ribuan lagi serpihan meluncur dalam penerbangan yang mematikan ke bumi.

XS
SM
MD
LG