Tautan-tautan Akses

NASA Luncurkan Program Pengamatan Badai di Atlantik


Pesawat Global Hawk dari NASA bisa mencapai ketinggian hampir 20 kilometer, kira-kira dua kali lebih tinggi dari pesawat komersil.
Pesawat Global Hawk dari NASA bisa mencapai ketinggian hampir 20 kilometer, kira-kira dua kali lebih tinggi dari pesawat komersil.

Dengan semakin dekatnya puncak musim badai, Badan Antariksa Amerika NASA berencana untuk menyelidiki badai-badai yang menyelimuti Atlantik.

Badai tropis dan topan bisa berarti kombinasi angin kencang, ombak besar, banjir dan kehancuran. Kantor Kelautan dan Atmosfer Amerika mengatakan musim topan laut Atlantik tampaknya akan lebih aktif dari pada biasanya.

Badan Antariksa Amerika NASA akan mempelajari badai dengan mengamati langit di atas lautan Atlantik, bahkan di atas badai itu sendiri.

Dua pesawat tak berawak Global Hawk akan mengumpulkan bahan-bahan sehingga ilmuwan bisa melihat bagaimana badai berubah. Scott Braun, peneliti meteorologi NASA, mengatakan ini adalah tahun kedua program lapangan Hurricane and Severe Storm Sentinel (HS3) NASA.

“Apa yang kami selidiki adalah, lewat pemanfaatan sains memahami lebih baik peran lingkungan dan proses inti dalam pembentukan dan peningkatan badai di laut Atlantik,” ujarnya.

Global Hawk bisa mencapai ketinggian hampir 20 kilometer, kira-kira dua kali lebih tinggi dari pesawat komersil. Pesawat itu membawa peralatan seperti “High Altitude Imaging Wind” dan “Rain Profiler” yang memungkinkan ilmuwan mengumpulkan rincian tentang badai jauh di atas badai.

Global Hawk akan mengamati lingkungan dekat badai-badai itu untuk melihat kondisi sekitar yang mempengaruhi intensitasnya dan mengumpulkan data mengenai badai itu sendiri.

Satu pesawat akan menjatuhkan alat yang akan mengukur suhu, kelembaban, tekanan, kecepatan angin dan arah angin. Alat-alat ini dilengkapi parasut yang memperlambat jatuhnya, dan kata Braun, alat itu membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari atas badai sampai jatuh ke permukaan.

Pesawat-pesawat robot untuk misi ini diluncurkan dari Fasilitas Penerbangan Wallops milik NASA di Virginia dan bisa terbang sampai sejauh 20 ribu kilometer.

Braun mengatakan adalah satu keuntungan menggunakan pesawat semacam ini.

“Dengan Global Hawk kami bisa terbang sampai sekitar 28 jam. Dan karena semua awak serta ilmuwan berada di bumi dan tidak di dalam pesawat kami bisa bertukar jadwal. Itu berarti kami bisa pergi lebih jauh atau mengamati badai lebih lama dari pada dengan pesawat yang berawak,” ujarnya.

Peneliti akan menganalisa data itu secara mendalam setelah pengumpulan data di lapangan. Namun Braun mengatakan mereka juga berencana untuk melakukan analisa secara lebih cepat dan membagikan informasi tersebut selagi Global Hawk masih mengudara. Tahun ini penerbangan HS3 akan berlangsung dari 20 Agustus sampai 23 September.
XS
SM
MD
LG