Tautan-tautan Akses

Narapidana Belajar Bisnis di Penjara Amerika

  • Deena Prichep

Professor Sookyoung Lee sedang mengajar pelajaran "berpikir kritis" pada para napi di penjara San Quentin, California (foto: dok.).

Professor Sookyoung Lee sedang mengajar pelajaran "berpikir kritis" pada para napi di penjara San Quentin, California (foto: dok.).

Di beberapa penjara AS, para napi tidak saja belajar untuk mencari pekerjaan, tapi juga belajar bagaimana membuka usaha sendiri.

Dalam krisis perekonomian seperti saat ini di Amerika, sulit untuk mendapat pekerjaan kalau pernah di hukum penjara. Di penjara Amerika barat laut para napi tidak saja belajar untuk mencari pekerjaan tapi juga membuka usaha sendiri.

Sekilas, kelas ini tampak seperti kursus di perguruan tinggi daerah, dengan ruang kelas seperti umumnya diikuti puluhan mahasiswa dan sejumlah grafik di papan.

Tapi ini bukan perguruan tinggi daerah melainkan penjara perempuan Coffee Creek di Oregon. Kelas ini disebut LIFE singkatan dari Lifelong Information For Entrepreneur dan mendidik napi bagaimana memulai bisnis sendiri setelah bebas.

MercyCorps Northwest, cabang setempat organisasi pembangunan internasional memulai program ini empat tahun lalu. Asisten Direktur MercyCorps Northwest , Doug Cooper mengatakan mereka melandaskan kerja mereka pada pengalaman MercyCorps pada bantuan internasional.

Ia mengatakan, "Kami mencari cara-cara untuk bisa menerapkan keahlian kami pada pembangunan ekonomi dan pengelolaan usaha kecil terhadap penduduk yang bisa memakainya. Sama seperti yang kami lakukan di dunia internasional tapi kami menerapkannya disini di Oregon dan Washington.

Kelas yang berlangsung selama delapan bulan itu menggabungkan pelatihan penting usaha kecil dengan kemampuan ringan seperti penetapan tujuan dan pelayanan sendiri. Saresa Whitley yang dijatuhi hukuman penjara lima tahun karena melakukan penyerangan adalah salah satu mahasiswa. Ia akan mencari pekerjaan setelah bebas bulan Januari nanti tapi juga berencana untuk memulai usaha kecil menjual kerajinan tangan.

"Sewaktu membicarakan layak atau tidaknya usaha saya menggunakan model untung dan rugi, saya terkejut saya sebelumnya bahkan tidak tahu kata ‘layak” dan sekarang saya mengetahuinya. Saya banyak belajar, saya belajar bagaimana menyusun perencanaan usaha, kemampuan berkomunikasi secara efektif, mendengar, sesuatu yang tidak saya ketahui sebelumnya," ujar Whitley.

Narapidana Lisa Bode (kiri) dan Cynthia Thompson sedang belajar di kelas 'the Coffee Creek'.

Narapidana Lisa Bode (kiri) dan Cynthia Thompson sedang belajar di kelas 'the Coffee Creek'.

Pelajaran-pelajaran ini adalah bagian penting dari program tersebut. Cynthia Thomson yang dihukum karena mencuri identitas mengatakan. Ia mengatakan, "Saya rasa tujuannya adalah mencetak orang menjadi bagian dari masyarakat, membayar pajak dan menjadi relawan. Tidak harus sukses membangun usaha kecil namun juga menjadi orang sukses dan bertanggung jawab di masyarakat.

Sejauh ini tampaknya program itu berhasil. Terlalu dini untuk menyimpulkan hasilnya secara resmi tapi data tidak resmi MercyCorps mengatakan hanya tiga dari sekitar 100 alumninya yang kembali ke penjara. Angka itu jauh dibawah tingkat residivis nasional yang di atas 50 %. Para alumni membuka usaha kurir, salon kecantikan dan kios kerajinan di pasar-pasar tradisional.

MercyCorps Northwest baru saja memulai program LIFE lainnya di penjara perempuan di negara bagian Washington. Doug Cooper berharap ide itu akan menyebar ke seluruh penjara Amerika. Menurut data terbaru ada lebih dari 1,5 juta napi. Ia mengatakan membantu bekas napi adalah tujuan sistem pemasyarakatan yaitu rehabilitasi. Doug Cooper dari MercyCorps mengatakan pemikiran wiraswasta membantu perempuan-perempuan itu untuk sukses baik berusaha sendiri atau bekerja dengan orang lain.

XS
SM
MD
LG