Tautan-tautan Akses

Sehari-harinya, Michael Williams di San Francisco tampil sebagai laki-laki. Tetapi pada malam hari, terutama saat ia harus tampil di acara-acara pesta ia berubah menjadi Sister Roma, seorang waria dengan makeup putih tebal dan tatanan rambut unik. Kehidupan sebagai drag queen ini telah dijalani dua puluh tahun lebih, dan identitasnya sebagai Sister Roma telah lekat dengan dunia waria dan LGBT (lesbian, gay, bisex, transgender) di San Francisco. Ini membuatnya terkejut saat beberapa bulan lalu, Facebook memblokir akunnya dengan alasan ia tidak menggunakan nama asli.

Berbeda dengan Sister Roma, Sadaisha Shimmers sehari-harinya tidak tampil sebagai laki-laki. Shimmers adalah seorang transgender yang lahir sebagai laki-laki tetapi telah berubah kelamin dan sekarang mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan. Ia pun diblokir akunnya berkat pelaporan sesama pengguna Facebook.

"Perlu tiga bulan bagi Sister Roma untuk membantu saya mengaktifkan kembali akun dengan nama saya", kata Shimmers. Ia membayangkan situasinya pasti mengkhawatirkan di negara yang represif terhadap kaum transgender. Katanya, "Pemerintah setempat mengetahui Anda hidup seperti ini dan mereka tidak setuju, bisa saja aparat memburu kaum transgender lewat jejaring sosial. Ini sudah sering digunakan untuk menangkap penjahat."

Sister Roma dan Sadaisha Shimmers termasuk di antara demonstran yang mendatangi markas Facebook di Menlo Park, dekat San Francisco untuk kembali memprotes keharusan menggunakan nama asli sesuai KTP. Meski Facebook Oktober lalu mencapai kesepakatan dengan Roma untuk membolehkan nama panggung bagi waria dan seniman, banyak pengguna Facebook tetap diblokir akunnya bila ada sesama pengguna yang melaporkan akun tersebut dengan tuduhan menggunakan nama samaran.


"Orang menyalahgunakan opsi melaporkan akun orang dengan tuduhan nama palsu untuk merisak kaum LGBT dan siapapun yang tidak mereka sukai", kata Sister Roma saat demo. Menurutnya, ini dilakukan sekedar karena benci dengan sekelompok orang yang penampilan atau kehidupannya berbeda.

Kelompok masyarakat lain yang ikut berdemo karena ikut terkena dampak kebijakan nama asli ini adalah warga dari suku asli Amerika atau juga dikenal sebagai suku Indian. Di suku Indian ada tradisi menamakan anak secara deskriptif, sehingga di mata orang awam nama tersebut tidak seperti lazimnya nama. Ini menyebabkan sejumlah pengguna Facebook dari suku asli Amerika sempat diblokir akunnya karena dianggap memiliki nama samaran, termasuk pengguna bernama Happy Cloud (berarti "Awan Bahagia") dan Dana Lone Hill (Dana "Bukit Tunggal")

Kantor pusat Facebook di Menlo Park, California.

Kantor pusat Facebook di Menlo Park, California.

Sister Roma memang mengatakan, kebijakan nama asli memang tidak hanya berdampak pada kaum waria. "Saya kebanjiran email dari orang yang menggunakan pseudonim (nama samaran) di Facebook dengan berbagai alasan", kata Roma, "Ada pekerja sosial, guru sekolah, ahli terapi.. semua menggunakan nama samaran". Selain itu, korban kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan seksual juga sering berada di jejaring sosial dengan nama samaran.

Facebook sendiri berdalih, keharusan menggunakan nama asli adalah demi kenyamanan para pengguna sendiri dan untuk mencegah interaksi merugikan (seperti penipuan dan perisakan). Google Plus pun dulu juga mengharuskan nama asli, sebelum akhirnya banyak diprotes terutama oleh tokoh oposisi dan aktivis di negara-negara represif yang memang harus menjaga kerahasiaan jati diri. Dalam pertemuan sebelumnya, pihak Facebook berjanji untuk terus menindaklanjuti keluhan seputar nama asli ini.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG