Tautan-tautan Akses

Praktik Mutilasi Kelamin Perempuan Masih Ditemukan di Singapura


Anak perempuan dari suku Masai membawa poster dalam protes menentang Mutilasi Kelamin Perempuan di Kilgoris, Kenya.

Anak perempuan dari suku Masai membawa poster dalam protes menentang Mutilasi Kelamin Perempuan di Kilgoris, Kenya.

Para ibu dan nenek diam-diam masih melanjutkan tradisi yang legal namun dikecam di seluruh dunia itu.

Klinik-klinik medis di Singapura masih melakukan pemotongan kelamin perempuan pada bayi-bayi, menurut orang-orang yang mengetahui praktik tersebut secara langsung. Hal tersebut berlangsung meskipun semakin banyak kecaman global dan para pemimpin dunia telah bertekad untuk menghapuskannya.

Ritual purba tersebut, yang lebih umum dikaitkan dengan komunitas-komunitas pedesaan di negara-negara Afrika, dilakukan oleh sebagian besar etnis Melayu Muslim di Singapura, di mana praktik itu legal namun tersembunyi, ujar Filzah Sumartono dari kelompok hak perempuan AWARE.

Di seluruh dunia, lebih dari 200 juta anak perempuan dan perempuan dewasa diyakini mengalami pemotongan atau mutilasi kelamin perempuan (FGM), menurut data PBB.

Namun keberadaannya di Singapura, negara pulau yang makmur dan membanggakan diri sebagai kota kosmopolitan yang modern dengan tingkat pendidikan tinggi, menunjukkan tantangan menanggulangi praktik yang berakar dalam budaya, tradisi dan keinginan untuk menjadi bagian komunitas.

Sumartono mengatakan terlalu dini untuk memberi tekanan pada Singapura untuk melarang praktik tersebut, meskipun banyak negara telah menetapkannya sebagai ilegal. Ia mengatakan mereka pertama-tama perlu menciptakan lebih banyak kesadaran dan debat mengenai praktik itu dan menggalang dukungan publik untuk mengakhirinya.

"Di lingkaran teman saya yang Melayu dan Muslim, 100 persen dari mereka telah disunat," ujar Sumartono, yang mengalaminya pada usia satu bulan.

Kementerian Kesehatan tidak memberikan komentarnya.

Sumartono mengatakan FGM, atau sunat perempuan, biasanya dilakukan sebelum usia dua tahun, dengan cara memotong ujung klitoris atau menggores sedikit, dan biasanya dilakukan oleh petugas medis profesional.

Tahun 2012, PBB menyerukan pelarangan global atas FGM, meningkatkan tekanan pada negara-negara untuk mengambil tindakan. Laporan PBB tahun ini menyebut 30 negara di mana praktik itu masih terjadi, hampir semuanya di Afrika. Indonesia adalah satu-satunya negara Asia yang ada dalam daftar.

Namun, Orchid Project, badan amal yang berkampanye melawan FGM, mengatakan bahwa sunat perempuan diyakini terjadi di sedikitnya 45 negara dan lebih meluas di Asi dan Timur Tengah. [hd]

XS
SM
MD
LG