Tautan-tautan Akses

Mutilasi Genital Perempuan Masih Meluas di Mesir

  • Elizabeth Arrot

Seorang konselor mencoba meyakinkan sekelompok perempuan Mesir bahwa mereka tidak perlu melakukan mutilasi genital untuk anak-anak perempuan mereka. (Foto: Dok)

Seorang konselor mencoba meyakinkan sekelompok perempuan Mesir bahwa mereka tidak perlu melakukan mutilasi genital untuk anak-anak perempuan mereka. (Foto: Dok)

Jumlah kasus mutilasi genital di Mesir turun sepertiganya, namun aktivis HAM khawatir berkuasanya kelompok Muslim Brotherhood akan meningkatkan jumlah kasus.

Para aktivis di Mesir khawatir kebangkitan politisi-politisi Islamis akan merusak hasil kerja tahunan untuk mencegah mutilasi genital perempuan. Namun praktik itu, dan gerakan untuk menolaknya, memiliki akar yang dalam di negara tersebut.

Bagi pendukungnya, praktik ini merupakan tanda kemurnian serta pengabdian pada masyarakat dan agama. Bagi mereka yang menolaknya, hal itu merupakan manifestasi fisik degradasi perempuan.

Mutilasi genital perempuan (FGM) merupakan tradisi kuno di Mesir, yang mendahului sejarah Islam dan Kristen. Praktik ini masih meluas, dengan perkiraan saat ini menunjukkan bahwa sebanyak 90 persen perempuan Mesir terimbas praktik ini.

Mesir mengkriminalisasi semua bentuk FGM pada 2008 dan kelompok hak asasi manusia mengatakan jumlah anak gadis yang mengalami operasi ini telah turun sepertiga.

Namun Nehad Abud Komsan, direktur Pusat Hak Perempuan Mesir, mengatakan berkuasanya kelompok Muslim Brotherhood dan politisi-politisi aliran Salafi yang lebih konservatif mengancam kemajuan itu.

"Mereka mengatakan mungkin akan ada peraturan yang membuat praktik itu legal pada kondisi tertentu, atau mengatakan bahwa hal itu bagus untuk proteksi. Mereka menghancurkan hasil kerja tahunan untuk melindungi perempuan muda dan dewasa di Mesir dan, sayangnya, menggunakan agama," ujar Komsan.

Pengadilan telah menolak tantangan legal untuk pelarangna tersebut, namun sistem yudisial dan pemerintahan dikuasai Presiden Mohamed Morsi dan pendukungnya, kekhawatiran meningkat. Ditambah lagi adalah perkiraan bahwa kelompok Salafi akan menang banyak di pemilihan parlemen tahun ini.

Komsan mengatakan usaha kelompok non-pemerintah di lapangan dan motivasi serta rasa hormat adalah kunci dalam perubahan perilaku terhadap FGM.

Ia membagi orang-orang yang mendukung FGM ke dalam tiga kategori: Mereka yang melihatnya sebagai upacara sosial dan budaya; mereka yang yakin hal itu akan membantu perempuan mengontrol seksualitas mereka; dan mereka yang percaya hal itu diwajibkan oleh agama.

Komsan mengatakan pemberian alternatif merupakan hal yang termudah untuk kedua kelompok pertama. Dengan menggantikan ritual yang berbeda dan tidak invasif untuk merayakan perempuan yang beranjak dewasa atau komunitas, semangat upacara itu dapat dilestarikan tanpa merusak tubuh perempuan.

Aktivis politik dan pembuat film Hala Galal menggambarkan upaya-upaya dari satu desa yang memilih menolak FGM.

"Bankan perempuan yang biasanya melakukan operasi tersebut dengan tangannya, juga bersumpah untuk tidak melakukannya lagi. Sekarang ia mengubah karirnya menjadi semacam penyelenggara pernikahan," ujar Galal.

Bagi mereka yang merasa FGM akan mencegah perempuan mengekspresikan seksualitas mereka, Komsan mengatakan pelatihan pikiran merupakan pendekatan yang lebih efektif dan manusiawi.

"Mereka harus paham bahwa perlindungan bukan berarti memotong bagian tubuh kita tapi dengan mengedukasi mereka, dan kita sendiri, bagaimana mengontrol hidup kita dan dengan mengirim anak-anak perempuan kita ke sekolah," ujarnya.

Kelompok ketigalah yang paling sulit diberi pemahaman, ujar Komsan.

"Saya selalu berkelakar bahwa FGM merupakan tanda persatuan umat Muslim dan Kristen di Mesir karena sebagian besar dari mereka percaya itu bagian dari agama," ujarnya.

Tapi praktik itu bukan bagian dari agama dan meski pemimpin lembaga bergengsi al-Azhar Institute dan pemuka agama Kristen telah melarangnya, banyak orang masih saja mengaitkannya dengan ajaran agama.

Aktivis politik Galal mengatakan ada masalah lain yang dihadapi advokat anti-FGM: Tuduhan bahwa mereka berusaha menanamkan nilai-nilai barat di Mesir.

"Pada mereka yang menuduh kami seperti itu dan bahwa kami melayani agenda barat, saya katakan: 'Apa agenda lainnya, menindas perempuan?'" ujarnya.
XS
SM
MD
LG