Tautan-tautan Akses

AS

Muslim Tanggapi Larangan Trump dengan Kekhawatiran dan Humor


Bakal calon presiden dari Partai Repubik Donald Trump dalam kampanye di atas pesawat USS Yorktown di Mount Pleasant, S.C., 7 Desember 2015.

Bakal calon presiden dari Partai Repubik Donald Trump dalam kampanye di atas pesawat USS Yorktown di Mount Pleasant, S.C., 7 Desember 2015.

Umat Muslim di AS dan seluruh dunia mengutuk usulan yang tidak mencerminkan Amerika yang diajukan oleh bakal calon presiden AS Donald Trump untuk melarang Muslim masuk ke AS.

Pada hari Senin (7/12), Trump menyerukan “Muslim dilarang masuk ke Amerika."

Dr. Ahmad Jaber, presiden Asosiasi Arab-Amerika New York dan Masjid Dawood, pada hari Selasa mengatakan usulan Trump "tidak mencerminkan Amerika" dan mengatakan betapa memalukan bahwa saat ini "mencela Muslim dan Islam" telah menjadi norma politik.

“Usulan ini bukan hanya pelanggaran hak asasi tapi juga pelanggaran konstitusi kita,” kata Jaber. “Para pendukung Donald Trump harus memahami bahwa perilaku seperti itu tidak etis, tidak mencerminkan Amerika dan tidak bisa diterima. Orang-orang tidak boleh menerima perilaku seperti itu dan Trump harus bertanggungjawab."

‘Memecah belah, aneh, penuh kebencian’

Di seberang Sungai Hudson, Mustafa El-Amin, seorang imam dan pemimpin Muslim di Newark, New Jersey, menggambarkan pernyataan Trump sebagai "memecah belah, aneh dan penuh kebencian."

Ia mengatakan perlu memperingatkan semua warga negara bahwa masyarakat Muslim memainkan peranan peting dalam masyarakat Amerika.

“Muslim ada dalam setiap aspek kehidupan Amerika: pendidikan, politik, bisnis, pemerintah, penegakan hukum, belum lagi fakta bahwa banyak Muslim menjadi anggota militer dan rela mengorbankan nyawanya untuk membela negara kita,” ujarnya.

Trump mengatakan usulannya dirancang untuk menjaga agar Amerika aman dari "sejumlah besar" populasi Muslim yang menurutnya membenci Amerika. El-Amin mengatakan hal ini berbahaya.

“Kita tidak tahu pola pikir orang yang mendengarkan pernyataannya dan mendengarkan retorika Donald Trump ini,” ujarnya.

El-Amin, yang besar di Newark, mengatakan masyarakatnya khawatir, dan seluruh rakyat Amerika "seharusnya juga khawatir," tentang kemungkinan serangan balik penuh kekerasan terhadap umat Muslim.

Jamaah masjidnya, mengatakan sebagian masalahnya adalah banyak rakyat Amerika yang tidak tahu seperti apa Islam itu.

“Mereka hanya mendengar saja, tapi saya yakin banyak dari mereka yang belum pernah datang ke masjid dan melihat bagaimana Islam diajarkan," kata Abdus-Saboor Shakir-Ullah, seorang warga AS yang beragama Islam dan tinggal di New Jersey.

Ahmed Kader, yang berasal dari Mesir, mengatakan Islam memperlakukan semua orang dengan sama, "kaya, miskin, hitam, putih, sejahtera dan tertindas."

“Di mana ada pendidikan, maka akan ada akal sehat," kata Kader. “Karena pendidikan di sini jauh lebih bagus daripada di tempat-tempat lain, saya melihat lebih banyak akal sehat, dan saya pikir hanya sedikit minoritas Amerika yang akan berpikiran, 'Oh, Islam itu teroris. Muslim itu teroris.' "

Kekhawatiran global

Di seluruh dunia pada hari Selasa, umat Muslim mengatakan sikap Trump tidak mewakili Amerika yang mereka kenal. Beberapa mengatakan sikapnya mengkhawatirkan.

Di Bangladesh, orang-orang mengungkapkan ketakutan bahwa komentar Trump bisa menyebabkan hubungan Islam dengan Barat menjadi rumit.

“Kami khawatir dengan komentar Trump. Kami juga khawatir dengan keluarga-keluarga kami yang tinggal di AS," kata Mohammad Musa, seorang warga Bangladesh, kepada VOA dari Dhaka, ibukota negara tersebut.

“Pernyataan Trump tidak sesuai dengan nilai-nilai dan ideologi Amerika. Komentar seperti ini menimbulkan ketakutan di antara kita," kata Shahadat Husain, seorang warga Khulna, Bangladesh.

Tahir Ashrafi, presiden Dewan Ulama, sebuah kelompok ulama Muslim Pakistan, mengatakan komentar Trump mungkin menyulut kebencian dan kekerasan. "Kalau ada pemimpin Muslim mengatakan ada perang antara Kristen dan Islam, kita akan mengecamnya. Jadi kenapa kita tidak mengecam seorang Amerika yang mengatakannya?" katanya pada Reuters.

Di Indonesia, yang mempunyai populasi Muslim terbesar di dunia, juru bicara Kementerian Luar Negeri Armanatha Nasir mengatakan tidak akan berkomentar tentang kampanye pemilu negara lain, tapi ia menegaskan posisi Indonesia tentang terorisme.

“Tindakan teror tidak ada hubungannya dengan agama atau negara atau ras apapun," kata Nasir pada Reuters.

Rakyat Amerika tidak akan mendukung

Beberapa pemimpin Muslim yakin rakyat Amerika tidak akan mendukung usulan Trump tersebut.

“Saya rasa rakyat Amerika tidak akan memilih orang seperti itu," kata Kamal Nasar Osoli, anggota parlemen Afghanistan, kepada VOA. “Dia [Trump] sakit jiwa.”

Aftab Ahmad Khan Sherpaw, seorang senator dan mantan menteri dalam negeri di Pakistan, setuju bahwa rakyat Amerika tidak akan mendukung Trump.

“Mungkin [Trump] pikir pernyataannya akan meningkatkan simpati orang padanya di Amerika. Tapi ia salah karena rakyat [Amerika] mendukung keharmonisan beragama," ujarnya pada VOA.

“Sikap memusuhi Islam dan Muslim akan meningkatkan ketegangan di masyarakat Amerika, di mana terdapat sekitar 8 juta warga negara Amerika Muslim yang cinta damai dan setia,” kata Dar al-Ifta Mesir, badan keagamaan resmi Mesir, dalam sebuah pernyataan.

Talat Chaudhry, seorang anggota parlemen dari Liga Muslim yang berkuasa di Pakistan, mengatakan komentar Trump menodai citra Amerika di luar negeri.

"Orang-orang senang tinggal di sana, dan orang-orang mengidolakan sistem [Amerika], jadi menurut saya [apa yang dilakukan Trump] tidak sesuai dengan politik dan citra negara itu," katanya pada VOA.

Menanggapi dengan humor

Din Syamsuddin, ketua Muhammadiyah, organisasi Muslim kedua terbesar di Indonesia, mengatakan komentar Trump adalah lelucon.

"Lucu ada seseorang di era modern dan globalisasi seperti ini yang sangat picik dan melarang beberapa orang masuk ke Amerika," ujarnya.

Seorang pengguna Twitter dari Arab Saudi menulis tweet “kalau begitu, kita pecat orang Amerika yang kerja di Aramco dan perusahaan minyak lain di sini,” merujuk pada warga Amerika yang kerja di sektor minyak di kerajaan Islam tersebut.

Tweet anonimus lain dari Arab Saudi memperkirakan Trump "sebentar lagi akan menuntut agar semua Muslim Amerika dideportasi."

Di akun Twitter-nya, satiris Mesir terkenal Bassem Youssef mengatakan, “Saya tidak tahu Donald Trump fasih tentang Nazi.” [dw]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG