Tautan-tautan Akses

Hari Raya Kurban sebagai Pendekatan Diri kepada Tuhan dan Solidaritas Sosial

  • Iris Gera

Muslim di Bali melakukan shalat hari raya Idul Adha di sebuah lapangan di kota Denpasar hari Jumat (26/10).

Muslim di Bali melakukan shalat hari raya Idul Adha di sebuah lapangan di kota Denpasar hari Jumat (26/10).

Hari Jumat ini, 26 Oktober 2012, muslim di dunia termasuk Indonesia marayakan hari raya Idul Adha agar dapat merasakan kedekatan dengan Tuhan dan juga sesama manusia.

Hari Raya Idul Adha atau Lebaran Haji tidak saja dapat dimaknai sebagai hari raya berkurban namun menurut seorang cendekiawan muslim, maknanya lebih luas lagi. Melalui Hari Raya Idul Adha, umat muslim dapat merasakan kedekatan dengan Tuhan dan juga sesama manusia.

Kepada VoA di Jakarta, Kamis, Guru besar FISIP, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Bambang Pranowo berpendapat berkurban bagi umat muslim bukan hanya sebatas menyembelih hewan lalu membagikannya kepada masyarakat kurang mampu. Berkurban menurutnya sekaligus merupakan refleksi untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan peduli terhadap sesama manusia.

Bambang mengatakan, “Semangat kurban sebetulnya adalah berbagi kepada mereka yang kekurangan kemudian kita mengurbankan binatang bisa sapi, bisa kambing tetapi semangatnya adalah kita berani mengurbankan nafsu-nafsu hewaniah yang ada pada diri kita berkurban bagi kebahagian bersama, bahkan ini harus mereka yang main stream, yang moderat ini harus menggunakan itu untuk kembalikan kepada pemahaman Islam yang ramah, karena kaitannya dengan Haji, Haji itu juga orang seluruh dunia berkumpul tanpa pandang bangsa dan sebagainya, kumpul di suatu tempat bersama-sama mengagungkan asma Tuhan, semangat kebersamaan antar bangsa ini diperkokoh dengan ibadah kurban sebetulnya untuk menumbuhkan akhlak yang luhur di dalam interaksinya dengan sesama manusia.”

Bambang Pranowo juga menambahkan berkurban adalah bagian dari beriman yang seharusnya dapat membawa berkah bagi sesama terutama bagi orang-orang sekitar.

Seorang anak muslim menuntun kambing yang akan dijadikan hewan kurban di Hyderabad, India (25/10). Hari raya kurban merupakan media sebagai solidaritas sesama manusia.

Seorang anak muslim menuntun kambing yang akan dijadikan hewan kurban di Hyderabad, India (25/10). Hari raya kurban merupakan media sebagai solidaritas sesama manusia.

“Oleh karena itu seorang beriman adalah orang yang membawa rasa aman bagi orang di sekitarnya, jadi kata iman dan aman itu sebenarnya satu akar kata, keimanan kita harus ditunjukkan dalam bentuk bahwa keamanan membawa rahmat bagi orang disekitarnya, pengertian pemahaman semacam ini yang harus terus menerus dikembalikan karena sekarang ini para radikalis itu membawa dan memanfaatkan jaringan internet untuk menyebarkan pemahaman mereka,” papar Bambang.

Bambang Pranowo juga menilai masyarakat penerima daging kurban harus terus diingatkan bahwa tahun-tahun kedepan sebaiknya tidak lagi sebagai penerima tetapi sebagai pemberi. Upaya tersebut dianjurkan dalam Islam karena Islam menginginkan agar umatnya banyak berzakat dan bersedekah.

Ia mengatakan, “Bagi penerimanya untuk di negeri yang makmur, sejahtera mungkin daging kambing itu tidak ada maknanya, tapi bagi banyak umat di negeri seperti Indonesia misalnya banyak lho orang yang tidak pernah, hanya beberapa kali kalau ada lebaran, kalau ada orang manten dan sebagainya, nah jadi itu suatu kegembiraan, suatu jembatan untuk menikmati hal-hal yang hanya dinikmati oleh orang tertentu pada hari biasa, kita pun di dalam ajaran Islam dianjurkan untuk lebih menjadi orang yang tangannya di atas daripada tangannya di bawah, artinya harus pihak yang memberi, bukan hanya yang menerima, nah itu memang harus didorong kesana, mendorong mereka untuk menjadi orang yang mampu, itu kan dorongan yang luar biasa, mempunyai semangat untuk menabung.”

Sementara, menurut Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, kesadaran umat muslim untuk berkurban terus meningkat. Ia memberi contoh hewan kurban yang dikelola Dompet Dhuafa tahun lalu sebanyak 21 ribu dan tahun ini sudah mendekati 30 ribu.

“Bahwa ternyata semakin banyak orang berkurban, itu artinya semakin banyak kesadaran berkembang tentang berkurban, tahun ini kita berharap bisa sampai 30 ribu, kita sudah punya mitra-mitra di daerah-daerah, kita itu sudah memasuki distribusinya 1.400 desa diseluruh Indonesia, kan kurban itu bentuk ibadah kita kepada Allah SWT, dalam ibadah itu juga terkandung solidaritas sosial karena kurban itu juga bentuk bagaimana kita memperhatikan orang-orang yang tidak mampu, orang-orang yang tinggal dipelosok, melalui kurban ini kita mempertautkan silaturahmi,” demikian menurut Ahmad Juwaini.
XS
SM
MD
LG