Tautan-tautan Akses

AS

Muslim AS Lawan Islamofobia dengan Humor


Nihad Awad, Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR), berbicara dalam sebuah konferensi pers. (Foto: Dok)

Nihad Awad, Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR), berbicara dalam sebuah konferensi pers. (Foto: Dok)

Organisasi Muslim di AS mendesak Partai Republik untuk merangkul para pemilih Muslim, yang bisa menjadi faktor penting di negara-negara bagian dengan massa mengambang (swing states).

Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) yang biasanya serius mencoba pendekatan humor untuk mengambil hati pendukung Partai Republik dalam konvensi nasional mereka yang berlangsung pekan ini di Cleveland, Ohio.

Para anggota Dewan tersebut membagikan paket-paket obat mainan yang dinamakan "Islamophobin," untuk mengobati Islamofobia.

Islamophobin, yang sebetulnya hanyalah permen karet biasa, menjanjikan kesembuhan untuk "intoleransi buta, kefanatikan tanpa dasar, ketakutan yang tidak rasional terhadap Muslim, (dan) pencarian kambing hitam dalam tahun pemilihan presiden AS."

Pada hari pertama konvensi Partai Republik, Senin (18/7), untuk menominasikan Donald Trump untuk pemilihan presiden 8 November nanti, para pemimpin CAIR mendesak partai itu untuk tidak membuat para pemilih Muslim menjauh.

Trump telah mengusulkan larangan sementara bagi Muslim memasuki Amerika Serikat. Ia menolak masuknya pengungsi dari perang Suriah, dengan mengatakan bahwa para militan mungkin ada di antara mereka. Ia telah membuat klaim-klaim, yang tidak terbukti, bahwa ribuan Muslim di New Jersey secara terbuka bersorak-sorai saat serangan 11 September 2001 terjadi.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan hari Senin oleh CNN, istri Trump, Melania, mengatakan bahwa suaminya: "Bukanlah seorang yang rasialis, ia tidak anti-imigran," dan menambahkan, "ia ingin membuat Amerika aman."

Direktur Eksekutif CAIR Nihad Awad mendesak Partai Republik untuk merangkul para pemilih Muslim, dengan mengatakan mereka bisa menjadi faktor penting di negara-negara bagian dengan massa mengambang (swing states) yang menentukan dalam pilpres.

"Terlalu sering dalam kampanye kali ini, kandidat-kandidat calon presiden Republik mengikuti keinginan para pemimpin Islamofobia dan para pendukungnya, dengan usul-usul seperti patroli di daerah-daerah Muslim, pengawasan dan penutupan masjid, dan mempertanyakan secara terbuka apakah Muslim bisa menjadi presiden," ujar Awad.

Sebagai resep pengobatan, Awad menawarkan Islamophobin, konsep yang dipinjamnya dari komunitas Muslim di Swedia yang menciptakan produk serupa. CAIR menjual paket berisi 12 'obat' tanpa gula seharga US$1.99 di amazon.com.

Paket itu bertuliskan: "Makan dua dan berbicara dengan seorang Muslim setiap pagi."

Namun ada peringatan dalam paket tersebut.

"Mereka yang sudah meyakini keberagaman agama, toleransi dan saling pengertian tidak perlu mengkonsumsi produk ini," menurut tulisan di paket itu.

Selain itu: "Berhenti menggunakan produk ini jika timbul perasaan hangat terhadap Muslim, imigran atau pengungsi."

Tak jauh dari tempat Awad, para demonstran beragama Kristen mencoba membayangi pidato Rose Hamid, perempuan Muslim yang diusir dari kampanye Trump di South Carolina bulan Januari karena protes diamnya, dengan berdiri mengenakan kerudung dan kaos bertuliskan, "Salam, saya datang dengan damai."

Saat Hamid berbicara mengenai hidup berdampingan secara damai di sebuah podium di lapangan Public Square yang memang diperuntukkan untuk pidato, sekelompok kecil orang di belakangnya mengacung-acungkan papan, salah satunya bertuliskan, "Muhammad adalah pembohong, nabi palsu."

Ketika mereka mencoba menenggelamkan suara Hamid dengan terompet, ia berbalik dan melihat mereka untuk pertama kalinya sambil berkomentar, "Oh, mereka sungguh manis." Polisi kemudian meringkus mereka karena berdemonstrasi tanpa izin. [hd]

XS
SM
MD
LG