Tautan-tautan Akses

AS

Muslim AS Juga Menentang Terorisme


Umat Muslim AS sedang sholat di Islamic Center di Northern Virginia.

Umat Muslim AS sedang sholat di Islamic Center di Northern Virginia.

Seruan kontestan calon presiden Partai Republik Donald Trump baru-baru ini untuk melarang warga Muslim memasuki wilayah Amerika telah mengingatkan warga Muslim-Amerika bahwa mereka juga akan ikut memberikan suara dalam pemilu mendatang. Meskipun banyak warga Amerika yang mempertanyakan mengapa warga Muslim-Amerika tidak mengutuk teroris yang membunuh orang-orang yang tidak berdosa dalam serangan teror, Anush Avetisyan melaporkan dari sebuah masjid di dekat Washington DC bahwa sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya benar.

Salah seorang Muslim-Amerika, Ahmed Mashaal, mengatakan, "Kami merupakan bagian dari masyarakat di Amerika. Kami adalah bagian masyarakat sejak masih awal sejarah Amerika."

Amerika juga merupakan tempat tinggal bagi sekitar tujuh juta warga Muslim. Ratusan di antara mereka seminggu sekali datang ke sebuah masjid di Virginia untuk sholat Jumat. Hari Jum’at (25/12) lalu ada sekitar 2.000 orang yang sholat Jumat. Di antara mereka terdapat sejumlah imigran generasi pertama, kedua dan ketiga di Amerika.

Bagi mereka, serangkaian serangan teror yang diatur atau diilhami oleh ISIS baru-baru ini telah menjadi tantangan bagi warga Muslim, bagi agama dan upaya mereka untuk menyatu ke dalam masyarakat Amerika pasca serangan 11 September 2001.

Banyak warga Muslim yang dilahirkan, dibesarkan dan dididik di Amerika merasa bahwa merupakan tugas mereka untuk melawan penyebarkan gagasan-gagasan radikal yang mengatasnamakan Islam.

Beberapa anggota Islamic Center di Northern Virginia mengatakan mereka yakin tentang perlunya menarik orang-orang yang sendirian dan terisolasi, yang mudah diradikalisasi dan menjadi teroris di dalam negeri.

"Ajak mereka supaya bergaul dalam masyarakat,yang mengajak anak-anak muda memiliki pesan positif dan memastikan mereka punya pekerjaan dan peran dalam masyarakat. Jangan biarkan mereka hidup terpisah atau menyendiri," Mashaal menambahkan.

Sementara Ali Asinalinsyed, anggota lainnya mengatakan, "Saya percaya kami memiliki lebih banyak suara dalam masyarakat Muslim untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan bagi agama kami yang telah dibajak oleh sekelompok orang yang sangat sesat, yang tidak ada kaitannya dengan Islam."

Seorang anggota lainnya, Jakir Chowdhury, mengatakan, "Ada sekelompok tertentu orang yang berupaya membajak agama kami demi tujuan mereka sendiri. Peran kami adalah memastikan bahwa masyarakat pada umumnya dan warga Amerika tahu tentang hal ini."

Beberapa jajak pendapat dan penelitian dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa warga Muslim-Amerika memainkan peran penting dalam membantu para penegak hukum menemukan tersangka teroris di Amerika.

Survei Pew mendapati bahwa sekitar separuh warga Muslim-Amerika mengatakan pemimpin agama mereka tidak berbicara cukup keras menentang ekstrimis Islam.

"Pemimpin-pemimpin Muslim sudah terlalu lama berdiam diri. Ini saatnya bagi kami untuk bangkit dan berusaha merebut kembali agama kami - dari orang yang telah membajaknya. Semakin lama kelihatan sepertinya kami gagal menjalankan tugas ini," kata Muhammad Farooq.

Pemimpin Islamic Center di Northern Virginia itu mengatakan semua sholat dan layanan di masjid itu disiarkan secara langsung melalui webcast dan bisa dilihat di situs website Center tersebut. Ini dalam upaya memberi penerangan kepada orang tentang Islam. [em/al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG