Tautan-tautan Akses

Musisi Muda Yahudi dan Arab, Berteman Melalui Musik Klasik

  • Carolyn Weaver

Sebuah proyek yang berbasis di kota Nazareth dan Jaffa di Israel membantu menyatukan warga Yahudi dan Arab, sekaligus memberikan pendidikan dan pelatihan musik klasik kepada anak-anak Palestina.

Dua musisi Yahudi Israel dan dua Arab Israel berada di New York untuk tampil sebagai Kuartet Polyphony Quartet, kelompok yang dibentuk Yayasan Polyphony yang berbasis di Israel.

Revital Bendersky dan Shir Chyat adalah pemain biola dan keduanya Yahudi. Feras Machour, pemain biola dan viola, adalah Kristen Palestina, dan Mahdi Saadi, pemain cello, seorang Muslim.

Polyphony dimulai tahun 2006 di sebuah sekolah kecil di Nazareth untuk mengajarkan musik klasik kepada anak-anak Arab, kata pendiri dan direktur musik Nabeel Abboud-Ashkar.

“Dulu tidak pernah ada peluang nyata dan layak bagi anak-anak Arab untuk mempelajari musik klasik. Dan itu yang dapat kami ubah. Kami menunjukkan kepada semua orang bahwa tidak ada alasan anak Arab tidak bisa memainkan musik klasik dengan standar tinggi,” kata Nabeel Abboud-Ashkar, pendiri Polyphony.

Sekolah itu berkembang sementara guru-gurunya – sebagian besar Yahudi Israel – menyetir dua jam dari Tel Aviv untuk mengajar anak-anak. Dari situ, Polyphony terbentuk, untuk mengajarkan musik – dan menyatukan murid-murid musik klasik Palestina dengan teman-teman Yahudi sebayanya. Pertemanan terbentuk diantara mereka.

Mahdi Saadi mengatakan terlibat dalam kelompok ini mengubah dirinya. “Kelompok ini menghilangkan prasangka saya dan bagaimana saya melihat orang, bagaimana untuk menerima mereka dan bagaimana supaya diterima. Saya belum pernah punya teman Yahudi sebelumnya, dan saya pikir saya tidak akan pernah punya,” katanya.

Revital Bendersky merasakan hal serupa. “Saya mulai melihat banyak hal dari sisi berbeda. Dan seperti kata Mahdi, saya belum pernah punya teman Arab sebelum bergabung dengan Polyphony," timpal Revital Bendersky.

Saadi menambahkan hubungan yang terjalin antara mereka lebih dari sekedar teman. “Kami melakukan latihan, kami mulai mengenal satu sama lain, kami mulai percaya satu sama lain dalam konser, apabila ada seseorang yang membuat kesalahan, selalu ada seseorang yang membantu dan mendukung kami. Jadi kami lebih seperti tim musik keluarga,” imbuh Saadi.

Dalam salah satu penampilan mereka di New York, di gereja Unitarian of All Souls, mereka memainkan musik karya Mozart.

Diantara para penonton hadir para pendiri Polyphony, Craig dan Debora Cogut. Berkat dukungan finansial mereka, program itu telah meluas sampai melatih 130 guru. Dan tahun ini, program-program pendidikan musik Polyphony di SD dan TK diperkirakan merangkul 10,000 warga Arab Israel muda lainnya.

XS
SM
MD
LG